Tuhan dalam paradoks waktu

BlivetSatu hal yang harus kita pahami terlebih dahulu sebelum membicarakan tentang ‘Tuhan,’ adalah bahwa ‘Tuhan’ bukanlah suatu barang seperti ‘jeruk bali’ yang setiap orang bisa melihat, mengendus, melempar, dan memakannya sehingga jika kita berkata ‘jeruk bali,’ yang ada dalam pikiran orang lain adalah ‘jeruk bali’ yang sama dengan yang ada dalam pikiran kita. Kata ‘Tuhan’ menyimpan makna yang berbeda-beda bagi setiap orang, karena konsep ‘Tuhan’ bukan berasal dari suatu pengalaman nyata yang lengkap. Ibaratnya seperti kisah orang buta memegang gajah. Mereka merasa pendapat mereka masing-masing adalah yang paling benar, padahal kenyataannya mereka semua sama-sama salah.

Ada banyak argumen yang dilontarkan untuk membantah kepercayaan tentang penciptaan alam semesta oleh sesosok ‘Tuhan’. Dua argumen yang sering dilontarkan diantaranya:

1. Jika Tuhan Maha Sempurna mengapa terdapat ketidaksempurnaan di dunia ini? (‘kesempurnaan’ dapat diganti dengan ‘keadilan’, ‘kebaikan’, dan lain-lain. Intinya adalah bagaimana mungkin ada sesuatu di alam semesta ini yang bertentangan dengan konsep ketuhanan.)

2. Alam semesta dapat terbentuk dan berjalan dengan sendirinya tanpa perlu campur tangan sosok adikuasa karena adanya hukum-hukum alam. (Termasuk argumen berdasarkan evolusi.)

Namun sebetulnya ada juga masalah lain yang jarang disinggung orang. Anggaplah ‘Tuhan’ adalah ‘suatu sosok adikuasa yang tidak terikat oleh waktu.’ Jika Tuhan ada tanpa terikat waktu, maka tidak ada ‘masa lalu’ maupun ‘masa depan’ bagi Tuhan. Maka akan timbul pertanyaan: bagaimana Tuhan dapat menciptakan apapun jika tidak ada waktu? Seandainya terjadi ‘Tuhan menciptakan,’ hal ini mengimplikasikan bahwa Tuhan terikat oleh waktu sebab Tuhan harus menciptakan terlebih dahulu sehingga sesuatu selain Tuhan dapat ada. Akan tetapi jika Tuhan tidak mencipta dan tidak ada waktu, bagaimana alam semesta ini dapat ada?

Sebenarnya permasalahan di atas dapat diatasi jika kita ubah konsep kita tentang ‘Tuhan.’ Solusi dari permasalahan di atas dengan tetap mempertahankan keyakinan terhadap ‘Tuhan’ adalah:

1. ‘Tuhan’ bukanlah suatu sosok yang memiliki kepribadian dan kesadaran manusia.
2. Alam semesta bukanlah ciptaan yang berada di luar dan terpisah dari ‘Tuhan.’
3. ‘Waktu’ hanyalah ilusi belaka.

Namun, menganut pemahaman seperti ini dapat membuat kita dianggap sesat, gila, dan bahkan menjadi benar-benar gila.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s