Mengapa takut mati?

Menimbang jantung roh

Sudah pasti bahwa kita semua pasti akan mati, dan sekaligus juga takut akan kematian. Tapi mengapa kematian terasa begitu mengerikan? Pada umumnya manusia itu:

1. Takut menghadapi sesuatu yang tidak diketahui,
2. Takut kehilangan apa yang sudah dimiliki,
3. Takut menerima sesuatu yang tidak diinginkan.

Untuk menghilangkan rasa takut ini, kita harus membangun pemahaman dan kebiasaan yang baik:

1. Melihat sesuatu sebagai mana adanya. Pandangan kita terhadap kematian sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, kebudayaan, dan khayalan saat kita hidup. Tapi, apakah semua itu benar? Apa yang terjadi setelah mati bisa sangat jauh dari dugaan.

2. Membiasakan untuk melepaskan apa yang sudah dimiliki sebagai sesuatu yang niscaya dan bermanfaat. Tidak ada sesuatu yang abadi, dan apa yang sudah kita miliki pada saatnya juga akan kita tinggalkan. Salah satu cara membangun kebiasaan untuk ‘melepas’ adalah dengan berderma dan mengalah tanpa pamrih, tanpa mengharap terima kasih orang lain. Kita juga harus melihat sisi positif dari kehilangan, dan dengan sadar memanfaatkan masa-masa di mana kita merasa kehilangan sebagai peluang untuk berbenah diri.

3. Membiasakan untuk bertanggung jawab atas pikiran dan perbuatan. Semasa hidup kita dapat mencar-cari alasan dan menyalahkan orang lain. Namun, setelah kita mati hal ini tidak dapat lagi dilakukan. Karena itu, kita harus selalu waspada terhadap segala sesuatu yang kita pikirkan, rasakan, ucapkan, dan lakukan. Perhatikan alasan mengapa ‘ini’ semua terjadi, dan apa akibatnya. Setelah itu, terima akibatnya dengan lapang dada.

Dalam mitologi kematian Mesir kuno, setelah manusia mati kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari kebenaran dan keadilan Ma’at secara spontan mencari-cari kesempatan untuk hidup; mereka mengalami reinkarnasi yang tidak diinginkan.

Sementara itu, mereka yang dapat menahan diri akan melanjutkan perjalanannya menuju penghakiman. Di sana, berat jantung (melambangkan roh) dibandingkan dengan berat bulu Ma’at (kebenaran, keadilan). Jika jantungnya lebih berat, maka jantung itu akan dibinasakan.

Yang dinilai bukanlah hasil perbuatannya, melainkan apakah dalam kehidupan sehari-hari pikiran, ucapan, dan perbuatan roh itu sudah ‘seimbang’ dengan Ma’at.

Di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan kita tidak harus menjadi sempurna; namun secara perlahan kita dapat menjadi lebih baik dan ‘seimbang.’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s