Dogmatisme “ilmiah”

Ada beberapa orang yang sepertinya begitu terpesona dengan sains hingga percaya bahwa apapun yang ilmiah sudah pasti benar dan apa yang tidak ilmiah sudah pasti salah. Menurut orang-orang ini, sains dapat dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran karena ia terlepas dari subjektivitas dan dogma-dogma. Meskipun hal itu benar secara normatif, namun apa yang sebenarnya terjadi tidaklah selalu demikian.

Meskipun sains sebagai ilmu tidak dapat kita salahkan, namun para ilmuwan dapat terjebak dalam kesesatan yang di-ilmiah-kan. Sebagai contoh, teori heliosentrisme sebenarnya sudah dikemukakan oleh Aristarchus dari Samos pada sekitar abad ke-3 SM. Namun, hingga abad ke-17 teori ini masih belum dapat diterima oleh kalangan luas. Alasannya? Sebagian besar ilmuwan di masa lalu menganggap bahwa teori heliosentrisme tidak ilmiah. Contoh lainnya adalah pada saat Isaac Newton mengemukakan teori gaya gravitasi, tidak sedikit ilmuwan yang menolak teori tersebut dan malah menuduh Newton hendak menyusupkan konsep-konsep okultisme ke dalam ilmu alam.

Kita dapat saksikan bahwa selama perkembangannya, sains adalah sesuatu yang sangat dinamis. Apa yang ditolak pada masa lalu kemudian diterima pada masa selanjutnya, begitu pun sebaliknya. Teori-teori yang ada selalu ditinjau ulang, diperbaiki, atau bahkan diganti sepenuhnya. Pada akhirnya kita perlu mengingat bahwa ada banyak sekali hal yang belum kita ketahui, dan agar sains dapat terus berkembang kita perlu bersikap skeptis bahkan terhadap temuan-temuan yang dianggap ilmiah pada saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s