Masa depan yang tak menentu

Kita hidup di masa yang penuh kemudahan. Berkat kemajuan teknologi, berbagai bidang dalam kehidupan mengalami perkembangan pesat. Transportasi sekarang sudah menjadi mudah, cepat, dan murah. Kita dapat membeli buah yang dipanen di Tiongkok dan Amerika di minimarket dekat rumah. Penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan menjangkau seluruh dunia.

Sekilas, tampaknya semua ini hanya akan menjadi lebih baik. Tetapi belakangan saya menjadi putus asa terhadap kelangsungan hidup kita sebagai Homo sapiens di masa yang akan datang.

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua kemudahan yang kita dapatkan saat ini sangat bergantung terhadap tersedianya bahan bakar fosil. Mesin-mesin industri, alat transportasi, serta perangkat elektronik yang kita miliki sekarang dapat dijalankan karena adanya bahan bakar fosil yang murah dan melimpah. Sayangnya, bahan bakar fosil yang ada sangatlah terbatas. Bahan bakar fosil yang terbentuk selama jutaan tahun dihabiskan hanya dalam tiga ratus tahun. Jika kita kehabisan bahan bakar fosil, lantas bagaimana?

Sumber energi terbarukan kurang dapat diandalkan. Matahari, angin, air, tidak dapat memasok semua kebutuhan listrik kita. Hasilnya pun tidak pasti. Kadang banyak dan kadang sedikit. Energi nuklir sangat mahal. Ditambah lagi limbah radioaktifnya, mau dibuang ke mana? Energi fosil memang tidak dapat digantikan.

Kemungkinan besar kita harus mengubah gaya hidup kita. Hidup dengan lebih sederhana. Konsumsi energi kita saat ini tidak dapat tercukupi di masa depan. Kita terlalu boros.

Jangan lupakan perubahan iklim. Jika permukaan laut naik, akan tersisa sedikit lahan yang dapat ditempati. Sekarang saja lahan pertanian sudah tergusur oleh pemukiman. Penebangan hutan malah merusak ekosistem dan memicu bencana alam. Entah bagaimana nantinya pertanian kita, lahannya berkurang, tanahnya tidak subur, dan iklimnya tidak kondusif.

Dengan semakin meningkatnya populasi manusia, masalah yang ada jadi semakin runyam. Bumi kita tidak mempunyai cukup sumber daya untuk menopang keberlangsungan manusia. Akankah kita punya tempat bernaung? Akankah kita dapat makan? Kemungkinan terjadinya wabah, kelaparan, bahkan perang akan semakin meningkat.

Kita terlalu serakah, dan anak cucu kita yang akan memikul beban berat akibat kebodohan kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s