Melampaui Batasan Diri

Sebagai manusia, setiap orang dari kita memiliki keterbatasan masing-masing. Mungkin, setiap saat kita tidak menyukai batasan-batasan yang kita temui dalam hidup. Belenggu-belenggu yang menjauhkan diri kita dari menikmati hidup. Kita ingin menghancurkan semua belenggu-belenggu itu, benar? Kita ingin bebas!

Tentunya ada belenggu yang tidak dapat dihancurkan begitu saja, seperti belenggu kematian. Namun ada banyak belenggu-belenggu yang dapat kita hancurkan. Jika tidak bisa bela diri, maka belajar bela diri. Tidak bisa melukis ya belajar melukis. Tidak bisa bicara di depan umum, maka belajarlah untuk berbicara di depan umum.

Di sinilah terjadi suatu keanehan, paradoks! Jika ingin menikmati kebebasan, satu-satunya jalan untuk meraihnya adalah dengan disiplin. Dan apakah itu disiplin, jika bukan mengekang diri sendiri? Memaksakan diri sendiri untuk melakukan hal yang perlu, sekalipun itu dibenci? Melarang diri melakukan hal yang disenangi, jikalau itu tidak berguna? Ya, disiplin adalah suatu bentuk pengekangan diri. Mengekang diri sendiri agar bisa bebas!

Kita benci keterbatasan, namun jika kita selalu menghindar dari keterbatasan maka kita tidak akan bisa berkembang. Ibarat batu permata yang hanya akan muncul keindahannya setelah dipoles, demikian juga potensi manusia yang tidak akan bermekaran jika tidak dihadapkan pada keterbatasan.

Di sisi lain, kita juga harus lebih bijaksana dalam mengekang orang lain. Barangkali kekangan kita justru membuatnya semakin buas!

Iklan

Suatu ketika ada empat imam Yahudi yang dapat melihat taman firdaus. Mereka adalah Simeon ben Azzai, Simeon ben Zoma, Elisha ben Abuya, dan Akiba ben Yosef. Ben Azzai melihat surga dan meninggal. Ben Zoma melihat surga lalu menjadi gila. Ben Abuya sepulangnya dari surga kemudian menganut ajaran sesat. Hanya Akiba ben Yosef yang berangkat dan pulang dengan damai.

http://koshertorah.com/PDF/PardesLessons.pdf

Kisah empat orang imam Yahudi pergi ke surga

Kenapa percaya sama yang gaib?

Sewaktu masih kecil, terkadang aku mengalami déjà vu yang tidak biasa. Aku tidak sekedar merasa seperti pernah mengalami, tetapi benar-benar tahu kejadian itu. Saat itu terjadi, aku dapat “mengingat” benda-benda apa saja yang ada di sekitarku, berapa jaraknya, serta apa yang orang lain lakukan dan katakan, meskipun mereka berada di belakangku atau berada jauh di luar pandangan. Tapi yang paling aneh, terkadang aku juga “mengingat” kejadian yang akan terjadi di masa depan, seolah-olah kejadian itu memang pernah terjadi.

Pernah suatu ketika aku sedang memandang ke luar jendela. Saat itu sedang turun hujan dan jalanan sangat sepi. Tiba-tiba saja aku “mengingat” suara hujan itu, pola tetesan-tetesan hujan itu, dan juga orang yang akan melintas naik motor menggunakan jas hujan warna hijau gelap. Seperti apa motornya, seberapa cepat melajunya, bagaimana bentuk cipratan airnya, ke arah mana angin berhembus, semuanya dapat kuingat.

Jalanan masih sepi, tidak ada siapapun yang melintas. Dan beberapa detik kemudian, semuanya seolah ditayangkan kembali dihadapan mataku. Seseorang naik motor dengan jas hujan warna hijau gelap. Kecepatannya, cipratan airnya, hembusan anginnya, suaranya, semuanya persis sama.

Itu cuma salah satunya. Masih ada beberapa pengalamanku yang lainnya, dan peluang terjadinya “kebetulan” seperti ini sangatlah kecil dan tidak masuk akal. Nalar dan pengetahuan manusia ada batasnya, dan ada banyak hal yang sains tidak dapat jelaskan.