Belajar dari Mitos

Pada zaman dahulu belum ada tulisan dan buku, jadi semua informasi hanya bisa disampaikan secara lisan lalu dihafal. Supaya mudah dihafal dan menarik untuk dipelajari, informasi-informasi penting dikemas dalam bentuk lagu, puisi, dan cerita. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas kisah Timun Mas dan apa yang dapat kita pelajari dari dongeng yang sangat populer ini.

Alur cerita Timun Mas sangat sederhana. Ada seorang janda yang ingin mempunyai anak. Ia lalu membuat perjanjian dengan Buto Ijo supaya bisa mempunyai anak. Sebagai gantinya, saat anaknya sudah besar nanti anak tersebut akan dijadikan tumbal. Akhirnya si janda dapat memperoleh anak yang berasal dari buah timun, hasil dari menanam biji yang diberikan oleh Buto Ijo. Setelah anaknya sudah besar, sang ibu memohon bantuan petapa sakti untuk melindungi anaknya dari Buto Ijo, sesuai petunjuk dalam mimpi. Dengan menggunakan barang-barang yang diberikan oleh petapa, yakni biji timun, jarum, garam, dan terasi, akhirnya Buto Ijo dapat ditaklukkan.

Satu hal yang sering dilakukan oleh orang-orang modern adalah mengasumsikan bahwa cerita-cerita dongeng dibuat untuk menanamkan sifat-sifat mulia pada anak, tidak lebih dari itu. Tapi dengan asumsi bahwa dongeng merupakan media untuk menyebarkan dan merekam informasi, maka tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa cerita Timun Mas mengandung informasi-informasi teknis, terutama yang berhubungan dengan hal gaib. Jadi informasi apa saja yang dapat kita manfaatkan dari cerita ini?

Membuat perjanjian dengan bangsa gaib

Kita bisa lihat bahwa orang yang terganggu keadaan jiwanya tidak bisa berpikir jernih, dan ada makhluk tertentu yang ingin memanfaatkan hal ini. Mbok Rondo, janda yang kesepian, menerima tawaran Buto Ijo untuk merawat seorang anak untuk kemudian ditumbalkan. Meskipun akhirnya ia berubah pikiran, ini merupakan keputusan yang dibuat dengan ceroboh.

Menemukan anak di dalam tanaman ajaib

Sejujurnya saya tidak begitu paham dengan hal ini, tetapi “lansia menemukan anak di dalam tanaman” merupakan motif yang muncul dalam beberapa cerita, contohnya kisah Putri Kaguya dan Momotaro. Sangat menarik. Mungkin suatu saat saya dapat memahami kenapa orang jaman dulu suka sekali cerita-cerita semacam ini.

Mendapat nasihat melalui mimpi

Mimpi bisa menjadi sarana untuk memperoleh pesan dari yang bersifat gaib. Saat kita tidur, alam bawah sadar kita menjadi lebih dominan dan mengakibatkan kita lebih mudah menerima pesan-pesan gaib. Sayangnya mimpi sangat mudah untuk dilupakan, karena itu akan sangat baik jika kita melatih otak kita untuk mengingat isi mimpi.

Melempar biji-bijian

Screen-Shot-2016-02-03-at-9.49.34-am

Dalam berbagai mitos dikatakan biji-bijian dapat menghalau gangguan gaib. Sebagai contoh, tuyul dikatakan akan sibuk menghitung jumlah biji-bijian yang ada didepannya, sehingga lupa untuk mencuri uang. Begitu pula dengan vampir, mereka akan sibuk menghitung sampai-sampai calon mangsanya berhasil kabur. Dalam kisah Timun Mas, sang raksasa sibuk memakan timun yang tumbuh sehingga Timun Mas berhasil kabur. Selain untuk menyibukkan makhluk gaib, melemparkan biji-bijian juga dipercaya dapat mengusir kesialan, contohnya kebiasaan orang Tionghoa jaman dulu melempar beras di depan rumah dan tradisi mamemaki (melempari setan dengan kacang) di Jepang.

Jarum

Dalam berbagai mitologi di dunia, dipercaya bahwa benda-benda tajam dari logam sangat ditakuti oleh makhluk gaib, terutama yang suka mengganggu ibu hamil dan anak-anak. Ada kebiasaan orang jaman dulu menyuruh ibu hamil membawa gunting, tujuannya untuk menakut-nakuti kuntilanak. Selain gunting, paku dan jarum juga bisa digunakan. Di Inggris terdapat kebiasaan untuk menaruh gunting dan jarum di kamar anak balita, tujuannya supaya anak tersebut tidak diganggu oleh bangsa peri ketika tidur.

Garam

Garam dipercaya dapat menetralisir energi-energi negatif. Mandi menggunakan air garam atau air laut dipercaya dapat membersihkan aura. Di Asia Timur, melemparkan garam dipercaya dapat melukai hantu karena garam menyerap energi negatif (Yin) dari hantu. Akan tetapi jika garam digunakan untuk membuat garis di tanah, maka akan terbentuk medan energi yang sulit ditembus makhluk gaib jenis tertentu. Seperti dalam kisah Timun Mas, garamnya berubah menjadi lautan yang sulit disebrangi.

Terasi

Ingat petuah kakek nenek dulu, “Kalau kamu diganggu genderuwo, cepat-cepat bakar terasi!”. Terasi memang hanya ada di Indonesia, tetapi kenyataan bahwa makhluk gaib tidak dapat mentolerir bumbu dan rempah tertentu merupakan sesuatu yang diketahui berbagai bangsa di dunia. Contohnya di India, orang-orang membakar rempah hing (Asafoetida) untuk mengusir makhluk gaib.

Kita bisa lihat bahwa dongeng Timun Mas memiliki berbagai lapisan, selain sebagai sebagai sarana hiburan dan pengajaran nilai moral, kisah ini juga mengajarkan anak-anak cara melindungi diri dari gangguan makhluk halus. Jika ada anak kecil yang diganggu makhluk seram, ia akan ingat cerita bagaimana Timun Mas menaklukkan Buto Ijo. Dengan demikian mereka dapat menjaga diri sendiri saat tidak sedang bersama orang dewasa.

Ada banyak mitos dan legenda yang mengandung pesan-pesan seperti ini. Biasanya mitos dengan pesan-pesan khusus mempunyai analogi dengan kisah dari negara-negara lain yang terpisah jarak dan budaya sangat jauh, seperti cerita Jaka Tarub dengan Swan Maiden. Tinggal apakah kita cukup jeli untuk menangkap maksud orang-orang dahulu membuat cerita-cerita demikian. Ingatlah bahwa leluhur kita adalah orang-orang cerdas, sama cerdasnya dengan kita yang hidup saat ini.

Sebuah Kisah Tentang Fae

Pada zaman dahulu sebelum manusia hidup di bumi, sudah ada makhluk yang biasa disebut fae, fairy, atau orang juga menyebut peri. Mereka tinggal di dalam batu, pohon, gua, danau, gunung, hutan, padang pasir, lautan, dan berbagai tempat lain di bumi. Bentuk mereka beraneka ragam. Ada yang menyerupai binatang, ada yang mirip manusia, ada yang setengah manusia dan setengah binatang, dan ada juga yang tidak mirip manusia maupun binatang. Ukuran mereka juga bermacam-macam. Ada yang ukurannya sangat mungil hingga yang berukuran raksasa. Umur mereka juga sangat panjang, antara ratusan hingga ribuan tahun.

Setelah beberapa waktu berlalu, manusia dan fae mulai hidup berdampingan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki tubuh fisik berperan menjaga kelestarian alam dan fauna yang ada di sekitarnya.Secara berkala mereka memberi persembahan pada fae. Sebagai gantinya, fae akan menjaga manusia dari bahaya. Mereka akan memperingatkan jika bencana alam akan datang. Mereka menghalau datangnya binatang-binatang liar yang mengganggu manusia. Mereka menjaga agar panen berlimpah, dan menunjukkan pada manusia tempat bersembunyinya logam mulia dan batu permata.

Musim berganti dan tahun berlalu, manusia pun menjadi tua dan akhirnya mati. Kebiasaan-kebiasaan manusia yang lampau untuk menghormati para fae diteruskan ke generasi selanjutnya. Bagi manusia ini adalah tradisi nenek moyang yang terus menerus dijaga. Akan tetapi bagi fae, waktu seratus tahun berlalu begitu cepat. Mereka tidak sadar bahwa manusia yang dahulu berkawan dengan mereka sudah lama tiada. Ketika para anak, cucu, dan cicit manusia menghadap mereka dengan persembahan-persembahan, yang mereka lihat adalah orang yang sama dengan yang mereka temui ratusan tahun sebelumnya. Antara orang tua dan anak manusia, mereka tidak tahu apa bedanya.

smokestacks

Sayangnya, tidak ada yang kekal di dunia ini. Pada akhirnya manusia-manusia muda tidak lagi mengindahkan apa kata leluhur mereka. Mereka berhenti memberikan persembahan. Mereka menebangi hutan-hutan. Mereka membunuhi binatang tanpa rasa hormat ataupun belas kasihan. Mereka meracuni udara, tanah, dan perairan.

Melihat hal ini para fae merasa dikhianati. Baru sebentar berteman, tiba-tiba manusia sudah ingkar janji. Sebagian besar fae kemudian menyingkir menjauhi peradaban manusia dan tinggal di tempat yang terpencil. Mereka bersembunyi dari manusia, supaya kehidupan mereka tidak diganggu. Namun sebagian dari mereka marah besar terhadap manusia. Mereka menebarkan teror, membuat suara-suara mengerikan di waktu malam, melemparkan benda-benda di rumah manusia, menampakkan diri mereka dalam wujud seram di hadapan manusia, bahkan hingga menyebabkan kegilaan.

Untungnya masih ada fae yang mau berteman dengan manusia. Mereka suka dengan manusia yang mencintai alam dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Saat manusia-manusia baik hati ini datang mendekati kediaman para fae, mereka sangat senang dan berharap agar manusia yang baik ini hidup bersama mereka. Hidup bersama mereka selamanya, jauh dari manusia-manusia jahat. Karena itulah mereka membisikkan kepada manusia, “Datanglah kemari…”, “Hiduplah bersama kami…”, “Tidurlah di sini…

Jika manusia itu menuruti bisikan-bisikan ini, biasanya mereka ditemukan tewas atau menghilang secara misterius. Roh mereka hidup bersama fae, dan entah apakah mereka bisa kembali lagi atau tidak.

Tentu saja, masih banyak fae yang tinggal bersama manusia, termasuk di kota-kota besar. Seandainya kamu pernah merasa seperti melihat bayangan gelap secara sekilas di rumah, ada kemungkinan bahwa itu adalah fae. Mungkin mereka penasaran denganmu. Mungkin mereka ingin menjagamu atau menunjukkanmu sesuatu. Atau mungkin juga mereka sedang menunggu saat kamu lemah, agar mereka dapat mengacaukan hidupmu.

Berhati-hatilah terhadap mereka.

*Tambahan (13/03/2016)

  • Selain dengan bentuk bayangan, terkadang peri/fae juga muncul dalam bentuk bola api/pendaran cahaya.
  • Terkadang fae juga dapat membuat orang tersesat di gunung dan hutan. Orang yang terjebak dalam ilusi fae akan merasa berjalan ke arah yang benar meskipun sebenarnya mereka berjalan berputar-putar dan tak sadar bahwa mereka sudah pernah melalui jalan yang sama. Cara lain yang digunakan fae adalah dengan menggerakkan anggota tubuh, seperti membuat kaki berjalan sendiri ke arah tertentu.
  • Fae tidak suka dengan benda yang terbuat dari besi, semisal paku, gunting, dan pisau.

Suatu ketika ada empat imam Yahudi yang dapat melihat taman firdaus. Mereka adalah Simeon ben Azzai, Simeon ben Zoma, Elisha ben Abuya, dan Akiba ben Yosef. Ben Azzai melihat surga dan meninggal. Ben Zoma melihat surga lalu menjadi gila. Ben Abuya sepulangnya dari surga kemudian menganut ajaran sesat. Hanya Akiba ben Yosef yang berangkat dan pulang dengan damai.

http://koshertorah.com/PDF/PardesLessons.pdf

Kisah empat orang imam Yahudi pergi ke surga

Lilith adalah istri Adam?

Beberapa orang menulis bahwa sebelum Hawa, sebenarnya Adam sudah memiliki istri yang bernama Lilith. Menurut desas-desus, cerita tersebut berasal dari Talmud Yahudi. Kira-kira seperti ini ceritanya:

Setelah menciptakan alam semesta, Tuhan pun menciptakan manusia. Ia menciptakan Adam, seorang lelaki, dari tanah. Kemudian Tuhan berfirman, “Tidak baik jika ia hidup sendiri!” Maka setelah itu Tuhan menciptakan seorang wanita dari tanah yang dinamakan Lilith.

Suatu ketika, Adam dan Lilith bertengkar. Llith berkata, “Aku tidak mau berbaring di bawah!” dan Adam membalas, “Aku tidak akan berbaring di bawahmu, aku hanya mau berada di atas! Sebab tempatmu adalah di bawah dan tempatku berada di atas!” Lilith menjawab, “Tapi kita sama-sama diciptakan dari tanah!” Namun Adam tidak mau mendengarkan Lilith. Akhirnya, Lilith dengan kesal menyebut Nama Yang Tidak Boleh Disebut dan pergi meninggalkan Taman Eden.

Adam lalu berdoa, “Wahai Sang Pencipta, wanita yang Engkau ciptakan untukku telah pergi meninggalkan aku!” Mendengar doa Adam, Tuhan kemudian mengirimkan tiga malaikat untuk menjemput Lilith. Ketiga malaikat ini adalah Senoy (סנוי), Sansenoy (סנסנוי), dan Semangelof (סמנגלוף).

Setelah Senoy, Sansenoy, dan Semangelof menemukan Lilith di laut, mereka membujuknya untuk kembali ke Taman Eden dan berbaikan dengan Adam. Akan tetapi Lilith menolak untuk kembali. Ketiga malaikat itu pun berkata, “Jika engkau tidak mau kembali, maka kami terpaksa harus membunuhmu!” Namun Lilith tetap menolak dan bersumpah demi nama Tuhan untuk membunuh bayi-bayi Adam. Sebagai gantinya, ia rela setiap hari 100 anaknya akan mati agar ia tetap hidup. Akirnya Senoy, Sansenoy, dan Semangelof kembali menghadap Tuhan dan melaporkan kejadian ini. Mengetahui hal ini, Tuhan kemudian mengambil salah satu rusuk Adam dan menciptakan wanita yang lain.

Apakah cerita tersebut benar? Sayangnya tidak.

Sebenarnya cerita di atas bukan berasal dari Talmud, melainkan berasal dari sebuah karya berjudul Alfabet Ben Sira. Alfabet Ben Sira bukanlah karya imam Yahudi, melainkan sebuah cerita fiksi bergaya satir yang ditulis pada abad pertengahan.

Cerita Lilith di atas merupakan penjelasan Ben Sira pada Raja Nebuchadnezzar mengenai kepercayaan orang-orang di masa itu terhadap setan bernama Lilith yang menggoda laki-laki di waktu malam, mengganggu wanita hamil, dan membunuh bayi yang baru lahir. Pada masa itu, orang percaya bahwa dengan membawa jimat bertuliskan “Senoy, Sansenoy, Semangelof” maka seseorang akan terlindung dari Lilith.

Apabila kita baca dari awal, sangat jelas bahwa cerita-cerita dalam Alfabet Ben Sira adalah guyonan belaka. Sebagai contoh, dalam karya tersebut dikisahkan bahwa sejak dalam kandungan Ben Sira sudah dapat berbicara dengan ibunya dan tahu siapa ayahnya. Saat usianya satu tahun, ia mampu berdebat dengan gurunya. Saat diajari cara membaca dan menulis, gurunya menyuruh Ben Sira untuk mengulangi nama huruf itu. Akan tetapi Ben Sira malah menjawab dengan ungkapan-ungkapan yang diawali dengan huruf tersebut!

Jadi, sudah jelas bahwa cerita Lilith sebagai istri Adam hanyalah fiksi belaka.

Kisah Er, putra Armenius, orang Pamphylia

Kisah Er (Myth of Er) adalah sebuah cerita yang menutup diskusi Socrates dan Glaucon dalam buku Republik (Politeia) karya Plato. Kisah ini mempunyai pesan bahwa dalam menjalani hidup, kebenaran dan keadilan harus selalu diutamakan. Selain itu, dalam berbuat kebaikan haruslah dengan pemahaman yang benar dan hati yang tulus. Perbuatan baik yang tidak disertai dengan hati dan pikiran yang baik tidak akan membawa kebaikan dalam jangka panjang.

Socrates bercerita pada Glaucon bahwa dahulu pernah hidup seorang prajurit bernama Er, putra Armenius, orang Pamphylia, yang gugur saat perang. Sepuluh hari setelah pertarungan di medan tempur, orang-orang pergi untuk mengambil jasad para prajurit yang gugur. Pada saat itu mereka menemukan jasad Er yang tidak membusuk sama sekali. Saat jasad Er akan dikremasi, tiba-tiba saja Er hidup kembali dan menceritakan kejadian-kejadian yang disaksikannya selama ia berada di alam seberang.

Dikisahkan bahwa sesaat setelah Er meninggal, ia diantar hingga sampai pada suatu padang luas yang memiliki empat jalan; di atas ada dua jalan ke arah langit, dan di bawah ada dua jalan masuk ke bawah bumi.  Di antara jalan-jalan  itu terdapat para hakim yang mengadili roh-roh yang datang ke tempat itu. Akan tetapi Er tidak diadili pada saat itu. Makhluk yang bertugas di sana mengatakan bahwa setelah ini, Er akan menyaksikan bagaimana keadaan di alam baka dan kemudian menceritakan pengalamannya setelah hidup kembali.

Dikatakan bahwa roh yang banyak berbuat kebajikan mendapat imbalan sebesar sepuluh kali lipat dari hasil perbuatannya. Jika ia hidup dalam kebajikan selama seratus tahun maka imbalannya adalah kesenangan selama seribu tahun. Setelah diadili oleh para hakim mereka naik ke langit untuk menerima balasan atas pahala mereka. Mereka yang berbuat kejahatan juga mendapat perlakuan yang sama. Satu kejahatan balasannya juga sepuluh kali lipat. Setelah diadili mereka disuruh turun ke bawah bumi. Beberapa yang kejahatannya sangat berat, hukumannya juga sangat lama.

Setelah mereka menerima balasan atas perbuatan masing-masing, mereka kembali lagi ke padang itu. Yang kembali dari dalam bumi memiliki penampilan yang lusuh dengan raut wajah masam, sedangkan yang datang dari langit penampilannya rapi dengan wajah berseri-seri. Yang saling kenal lalu saling menyapa, kemudian yang dari langit bertanya bagaimana keadaan di bawah bumi, yang dari bawah bumi bertanya bagaimana keadaan di langit. Mereka yang datang dari langit, menceritakan bahwa hidup mereka penuh kesenangan, dan mereka menemui berbagai hal yang indah tak terlukiskan oleh kata-kata, sedangkan yang dari bumi menceritakan tentang berbagai penderitaan yang dialami sambil menangis pilu.

Setelah tujuh hari berada di padang itu, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat lain. Setelah empat hari, terlihat di cakrawala sebuah pilar cahaya terang yang memancarkan warna-warna bagai pelangi. Satu hari kemudian barulah mereka sampai di tempat tujuan. Di dalam cahaya yang menembus langit dan bumi itu, terlihat oleh mereka gelendong Ananke. Di dalamnya terdapat lingkaran yang berlapis-lapis. Pada setiap lapisannya terdapat orbit benda-benda langit beserta siren yang bernyanyi dalam harmoni. Di tempat itu mereka menghadap Lachesis, Clotho, dan Atropos, putri-putri Ananke, yang berkuasa membentuk takdir makhluk hidup, di masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Pertama-tama mereka pergi ke hadapan Lachesis, dan mereka disuruh untuk mengambil nomor antrean mereka, kecuali Er, karena ia tidak diperbolehkan. Setelah itu mereka berbaris, dan tampak di hadapan mereka berbagai pilihan kehidupan untuk mereka jalani. Yang mendapat giliran pertama sebelumnya datang dari langit. Teringat akan kesenangan yang telah ia alami, ia langsung memilih kehidupan seorang tirani, tanpa menyadari bahwa tirani itu ditakdirkan untuk membunuh anaknya sendiri. Kejadian yang disaksikan oleh Er pada saat itu amat memilukan. Sebagian besar roh yang ada di sana memilih hanya berdasarkan kebiasaan dan pengalaman mereka pada kehidupan sebelumnya tanpa mempertimbangkan dengan bijak apa konsekuensinya. Kebanyakan roh yang pernah tinggal di langit memilih secara gegabah, sedangkan yang pernah berada di dalam bumi lebih berhati-hati. Roh Orpheus memilih untuk menjadi angsa karena rasa bencinya terhadap wanita. Thamyras memilih untuk menjadi burung bulbul. Yang dulunya manusia ingin jadi binatang, sedangkan yang tadinya binatang ingin menjadi manusia.

Ajax, putra Telamon, memilih untuk jadi singa karena ketidakadilan yang dialaminya saat menjadi manusia. Agamemnon, karena kebenciannya terhadap kehidupan manusia, memilih untuk menjadi elang. Atalanta, karena tergiur akan kemasyuran, memilih untuk menjadi seorang atlet. Epeus, putra Panopeus, memilih untuk menjadi seorang wanita yang mempunyai kekuatan sihir, dan Thersites memilih untuk menjadi kera. Yang berada di giliran terakhir adalah Odysseus. Teringat akan kehidupan lampaunya mengejar ketenaran dan kekuasaan, Odysseus memilih untuk menjadi orang biasa yang tidak ikut campur urusan orang lain. Ia dapat menemukan pilihan ini denganmudah, sebab tidak ada seorang pun yang menginginkannya. Meski begitu ia puas akan pilihannya, dan seandainya mendapat giliran pertama untuk memilih, Odysseus tetap akan memilih kehidupan itu.

Setelah semua roh memilih kehidupannya masing-masing, mereka diharuskan untuk memilih daimon yang akan melindungi dan membimbing mereka dalam menjalani kehidupan. Mereka kemudian pergi mengahadap Clotho dan Atropos untuk menetapkan takdir mereka. Lalu mereka dibawa menuju sungai Lethe, di mana mereka diharuskan meminum airnya supaya ingatan mereka hilang. Yang bijak hanya meminum sedikit, sedangkan yang tidak, tanpa pikir panjang langsung meminum dalam jumlah banyak. Tentunya Er tidak dibolehkan untuk minum karena ia harus tetap ingat. Setelahnya mereka tertidur, kemudian saat tengah malam datanglah badai petir dan gempa bumi. Roh-roh yang tertidur kemudian melesat terbang ke arah kehidupan yang mereka pilih seperti bintang jatuh. Lalu tiba-tiba saja, Er pun bangkit.

Bacaan lanjutan: The Myth of Er From the Republic of Plato