Zodiak Bukan Rasi Bintang

Dalam percakapan sehari-hari, beberapa orang menyebut zodiak sebagai rasi bintang dan rasi bintang sebagai zodiak, karena beranggapan bahwa rasi bintang dan zodiak adalah sama. Ada juga orang yang mengatakan bahwa para astrolog tidak mengerti astronomi, karena posisi zodiak sudah bergeser dan sudah seharusnya dikalibrasi dengan posisi zodiak yang sebenarnya. Sayangnya pandangan bahwa zodiak dan rasi bintang adalah sama adalah tidak benar. Dalam astrologi, zodiak dan rasi bintang adalah dua hal yang berbeda.

Rasi bintang adalah kumpulan bintang di langit yang dapat dibayangkan seperti suatu bentuk atau pola tertentu, disebut juga dengan nama lain “konstelasi”. Contohnya seperti Ursa Major, Orion, Scorpius, Pisces, Draco, Ophiuchus, dan lain-lain. Sedangkan zodiak adalah bagian dari langit yang di dalamnya bisa terdapat rasi bintang atau bisa juga tidak.

zodiac-ptolemaic

Zodiak adalah cara membagi langit, bukan gugusan bintang.

Untuk lebih jelasnya, coba bayangkan tata surya yang geosentris. Susunannya mirip dengan tata surya yang kita tahu, hanya saja tempat Bumi ditukar dengan Matahari. Jadi Bumi berada di tengah dengan benda-benda langit melayang mengitari Bumi. Yang paling dekat adalah Bulan, lalu Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus, dan nun jauh di pinggir ada banyak rasi bintang seperti Aries, Taurus, Gemini, dan lain-lain.

Bisa dibayangkan bahwa Matahari bergerak mengitari Bumi dalam waktu 365 1/4 hari. Selama kurun waktu itu, dari Bumi terlihat bahwa Matahari bergerak dari satu rasi bintang ke rasi bintang selanjutnya, sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Bagian langit yang dilewati oleh Matahari ini disebut bidang ekliptik. Sekarang abaikan rasi bintangnya, dan bagilah bidang ekliptik ini menjadi 12 bagian sama besar, masing-masing 30°. Inilah zodiak.

Tapi bagaimana cara membaginya? Titik nol pembagian zodiak berpatokan pada posisi Matahari pada saat equinox musim semi di belahan Bumi Utara, sekitar tanggal 21 Maret. Dimulai dari titik ini, berlawanan arah jarum jam, tandai setiap 30°. Jadi 30° pertama adalah zodiak pertama, 30° kedua adalah zodiak kedua, dan seterusnya.

Sekarang kamu pasti bertanya-tanya. Jika pembagian zodiak mengabaikan posisi rasi bintang, lalu kenapa zodiak memiliki nama rasi bintang? Alasannya, karena pada saat ilmu astrologi mulai dikembangkan oleh bangsa Babilonia, masing-masing zodiak ditempati oleh sebuah rasi bintang. Zodiak pertama ditempati oleh rasi bintang Aries, zodiak kedua ditempati oleh rasi bintang Taurus, dan seterusnya. Akhirnya zodiak dinamai sesuai dengan nama rasi bintang yang menempatinya pada waktu itu.

Setelah ribuan tahun, posisi rasi bintang bergeser dan tidak lagi tepat berada di dalam zodiak. Terjadi perdebatan apakah posisi zodiak juga harus digeser mengikuti pergerakan rasi bintang. Hal ini menyebabkan astrologi terbelah menjadi dua aliran, tropikal dan sidereal. Astrologi tropikal beranggapan bahwa rasi bintang tidak berpengaruh terhadap kehidupan manusia, sehingga posisi zodiak tidak perlu digeser. Sebaliknya astrologi sidereal menganggap bahwa rasi bintang juga berpengaruh, sehingga posisi zodiak perlu disesuaikan dengan posisi rasi bintang yang sebenarnya. Pada akhirnya, astrologi tropikal menjadi aliran astrologi yang dominan di Eropa, sedangkan astrologi sidereal lebih dominan di India.

Belajar dari Mitos

Pada zaman dahulu belum ada tulisan dan buku, jadi semua informasi hanya bisa disampaikan secara lisan lalu dihafal. Supaya mudah dihafal dan menarik untuk dipelajari, informasi-informasi penting dikemas dalam bentuk lagu, puisi, dan cerita. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas kisah Timun Mas dan apa yang dapat kita pelajari dari dongeng yang sangat populer ini.

Alur cerita Timun Mas sangat sederhana. Ada seorang janda yang ingin mempunyai anak. Ia lalu membuat perjanjian dengan Buto Ijo supaya bisa mempunyai anak. Sebagai gantinya, saat anaknya sudah besar nanti anak tersebut akan dijadikan tumbal. Akhirnya si janda dapat memperoleh anak yang berasal dari buah timun, hasil dari menanam biji yang diberikan oleh Buto Ijo. Setelah anaknya sudah besar, sang ibu memohon bantuan petapa sakti untuk melindungi anaknya dari Buto Ijo, sesuai petunjuk dalam mimpi. Dengan menggunakan barang-barang yang diberikan oleh petapa, yakni biji timun, jarum, garam, dan terasi, akhirnya Buto Ijo dapat ditaklukkan.

Satu hal yang sering dilakukan oleh orang-orang modern adalah mengasumsikan bahwa cerita-cerita dongeng dibuat untuk menanamkan sifat-sifat mulia pada anak, tidak lebih dari itu. Tapi dengan asumsi bahwa dongeng merupakan media untuk menyebarkan dan merekam informasi, maka tidak berlebihan jika kita menganggap bahwa cerita Timun Mas mengandung informasi-informasi teknis, terutama yang berhubungan dengan hal gaib. Jadi informasi apa saja yang dapat kita manfaatkan dari cerita ini?

Membuat perjanjian dengan bangsa gaib

Kita bisa lihat bahwa orang yang terganggu keadaan jiwanya tidak bisa berpikir jernih, dan ada makhluk tertentu yang ingin memanfaatkan hal ini. Mbok Rondo, janda yang kesepian, menerima tawaran Buto Ijo untuk merawat seorang anak untuk kemudian ditumbalkan. Meskipun akhirnya ia berubah pikiran, ini merupakan keputusan yang dibuat dengan ceroboh.

Menemukan anak di dalam tanaman ajaib

Sejujurnya saya tidak begitu paham dengan hal ini, tetapi “lansia menemukan anak di dalam tanaman” merupakan motif yang muncul dalam beberapa cerita, contohnya kisah Putri Kaguya dan Momotaro. Sangat menarik. Mungkin suatu saat saya dapat memahami kenapa orang jaman dulu suka sekali cerita-cerita semacam ini.

Mendapat nasihat melalui mimpi

Mimpi bisa menjadi sarana untuk memperoleh pesan dari yang bersifat gaib. Saat kita tidur, alam bawah sadar kita menjadi lebih dominan dan mengakibatkan kita lebih mudah menerima pesan-pesan gaib. Sayangnya mimpi sangat mudah untuk dilupakan, karena itu akan sangat baik jika kita melatih otak kita untuk mengingat isi mimpi.

Melempar biji-bijian

Screen-Shot-2016-02-03-at-9.49.34-am

Dalam berbagai mitos dikatakan biji-bijian dapat menghalau gangguan gaib. Sebagai contoh, tuyul dikatakan akan sibuk menghitung jumlah biji-bijian yang ada didepannya, sehingga lupa untuk mencuri uang. Begitu pula dengan vampir, mereka akan sibuk menghitung sampai-sampai calon mangsanya berhasil kabur. Dalam kisah Timun Mas, sang raksasa sibuk memakan timun yang tumbuh sehingga Timun Mas berhasil kabur. Selain untuk menyibukkan makhluk gaib, melemparkan biji-bijian juga dipercaya dapat mengusir kesialan, contohnya kebiasaan orang Tionghoa jaman dulu melempar beras di depan rumah dan tradisi mamemaki (melempari setan dengan kacang) di Jepang.

Jarum

Dalam berbagai mitologi di dunia, dipercaya bahwa benda-benda tajam dari logam sangat ditakuti oleh makhluk gaib, terutama yang suka mengganggu ibu hamil dan anak-anak. Ada kebiasaan orang jaman dulu menyuruh ibu hamil membawa gunting, tujuannya untuk menakut-nakuti kuntilanak. Selain gunting, paku dan jarum juga bisa digunakan. Di Inggris terdapat kebiasaan untuk menaruh gunting dan jarum di kamar anak balita, tujuannya supaya anak tersebut tidak diganggu oleh bangsa peri ketika tidur.

Garam

Garam dipercaya dapat menetralisir energi-energi negatif. Mandi menggunakan air garam atau air laut dipercaya dapat membersihkan aura. Di Asia Timur, melemparkan garam dipercaya dapat melukai hantu karena garam menyerap energi negatif (Yin) dari hantu. Akan tetapi jika garam digunakan untuk membuat garis di tanah, maka akan terbentuk medan energi yang sulit ditembus makhluk gaib jenis tertentu. Seperti dalam kisah Timun Mas, garamnya berubah menjadi lautan yang sulit disebrangi.

Terasi

Ingat petuah kakek nenek dulu, “Kalau kamu diganggu genderuwo, cepat-cepat bakar terasi!”. Terasi memang hanya ada di Indonesia, tetapi kenyataan bahwa makhluk gaib tidak dapat mentolerir bumbu dan rempah tertentu merupakan sesuatu yang diketahui berbagai bangsa di dunia. Contohnya di India, orang-orang membakar rempah hing (Asafoetida) untuk mengusir makhluk gaib.

Kita bisa lihat bahwa dongeng Timun Mas memiliki berbagai lapisan, selain sebagai sebagai sarana hiburan dan pengajaran nilai moral, kisah ini juga mengajarkan anak-anak cara melindungi diri dari gangguan makhluk halus. Jika ada anak kecil yang diganggu makhluk seram, ia akan ingat cerita bagaimana Timun Mas menaklukkan Buto Ijo. Dengan demikian mereka dapat menjaga diri sendiri saat tidak sedang bersama orang dewasa.

Ada banyak mitos dan legenda yang mengandung pesan-pesan seperti ini. Biasanya mitos dengan pesan-pesan khusus mempunyai analogi dengan kisah dari negara-negara lain yang terpisah jarak dan budaya sangat jauh, seperti cerita Jaka Tarub dengan Swan Maiden. Tinggal apakah kita cukup jeli untuk menangkap maksud orang-orang dahulu membuat cerita-cerita demikian. Ingatlah bahwa leluhur kita adalah orang-orang cerdas, sama cerdasnya dengan kita yang hidup saat ini.

Sebuah Kisah Tentang Fae

Pada zaman dahulu sebelum manusia hidup di bumi, sudah ada makhluk yang biasa disebut fae, fairy, atau orang juga menyebut peri. Mereka tinggal di dalam batu, pohon, gua, danau, gunung, hutan, padang pasir, lautan, dan berbagai tempat lain di bumi. Bentuk mereka beraneka ragam. Ada yang menyerupai binatang, ada yang mirip manusia, ada yang setengah manusia dan setengah binatang, dan ada juga yang tidak mirip manusia maupun binatang. Ukuran mereka juga bermacam-macam. Ada yang ukurannya sangat mungil hingga yang berukuran raksasa. Umur mereka juga sangat panjang, antara ratusan hingga ribuan tahun.

Setelah beberapa waktu berlalu, manusia dan fae mulai hidup berdampingan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki tubuh fisik berperan menjaga kelestarian alam dan fauna yang ada di sekitarnya.Secara berkala mereka memberi persembahan pada fae. Sebagai gantinya, fae akan menjaga manusia dari bahaya. Mereka akan memperingatkan jika bencana alam akan datang. Mereka menghalau datangnya binatang-binatang liar yang mengganggu manusia. Mereka menjaga agar panen berlimpah, dan menunjukkan pada manusia tempat bersembunyinya logam mulia dan batu permata.

Musim berganti dan tahun berlalu, manusia pun menjadi tua dan akhirnya mati. Kebiasaan-kebiasaan manusia yang lampau untuk menghormati para fae diteruskan ke generasi selanjutnya. Bagi manusia ini adalah tradisi nenek moyang yang terus menerus dijaga. Akan tetapi bagi fae, waktu seratus tahun berlalu begitu cepat. Mereka tidak sadar bahwa manusia yang dahulu berkawan dengan mereka sudah lama tiada. Ketika para anak, cucu, dan cicit manusia menghadap mereka dengan persembahan-persembahan, yang mereka lihat adalah orang yang sama dengan yang mereka temui ratusan tahun sebelumnya. Antara orang tua dan anak manusia, mereka tidak tahu apa bedanya.

smokestacks

Sayangnya, tidak ada yang kekal di dunia ini. Pada akhirnya manusia-manusia muda tidak lagi mengindahkan apa kata leluhur mereka. Mereka berhenti memberikan persembahan. Mereka menebangi hutan-hutan. Mereka membunuhi binatang tanpa rasa hormat ataupun belas kasihan. Mereka meracuni udara, tanah, dan perairan.

Melihat hal ini para fae merasa dikhianati. Baru sebentar berteman, tiba-tiba manusia sudah ingkar janji. Sebagian besar fae kemudian menyingkir menjauhi peradaban manusia dan tinggal di tempat yang terpencil. Mereka bersembunyi dari manusia, supaya kehidupan mereka tidak diganggu. Namun sebagian dari mereka marah besar terhadap manusia. Mereka menebarkan teror, membuat suara-suara mengerikan di waktu malam, melemparkan benda-benda di rumah manusia, menampakkan diri mereka dalam wujud seram di hadapan manusia, bahkan hingga menyebabkan kegilaan.

Untungnya masih ada fae yang mau berteman dengan manusia. Mereka suka dengan manusia yang mencintai alam dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Saat manusia-manusia baik hati ini datang mendekati kediaman para fae, mereka sangat senang dan berharap agar manusia yang baik ini hidup bersama mereka. Hidup bersama mereka selamanya, jauh dari manusia-manusia jahat. Karena itulah mereka membisikkan kepada manusia, “Datanglah kemari…”, “Hiduplah bersama kami…”, “Tidurlah di sini…

Jika manusia itu menuruti bisikan-bisikan ini, biasanya mereka ditemukan tewas atau menghilang secara misterius. Roh mereka hidup bersama fae, dan entah apakah mereka bisa kembali lagi atau tidak.

Tentu saja, masih banyak fae yang tinggal bersama manusia, termasuk di kota-kota besar. Seandainya kamu pernah merasa seperti melihat bayangan gelap secara sekilas di rumah, ada kemungkinan bahwa itu adalah fae. Mungkin mereka penasaran denganmu. Mungkin mereka ingin menjagamu atau menunjukkanmu sesuatu. Atau mungkin juga mereka sedang menunggu saat kamu lemah, agar mereka dapat mengacaukan hidupmu.

Berhati-hatilah terhadap mereka.

*Tambahan (13/03/2016)

  • Selain dengan bentuk bayangan, terkadang peri/fae juga muncul dalam bentuk bola api/pendaran cahaya.
  • Terkadang fae juga dapat membuat orang tersesat di gunung dan hutan. Orang yang terjebak dalam ilusi fae akan merasa berjalan ke arah yang benar meskipun sebenarnya mereka berjalan berputar-putar dan tak sadar bahwa mereka sudah pernah melalui jalan yang sama. Cara lain yang digunakan fae adalah dengan menggerakkan anggota tubuh, seperti membuat kaki berjalan sendiri ke arah tertentu.
  • Fae tidak suka dengan benda yang terbuat dari besi, semisal paku, gunting, dan pisau.

Makna Kartu Minor Tarot de Marseille

Di negara asalnya, Italia dan Perancis, tarot lebih dikenal sebagai alat permainan. Ilustrasi kartu tarot tradisional, salah satunya Tarot de Marseille (TdM), lebih sederhana dan kartu minornya justru mirip dengan kartu remi. Karenanya, “meramal” dengan dek seperti ini agak sulit bagi kebanyakan orang. Hal ini sangat berbeda dengan kartu tarot modern seperti dek Rider-Waite-Smith (RWS) yang populer di Inggris dan Amerika Serikat. Dek RWS memang dirancang untuk digunakan sebagai alat “peramalan” (divination) sehingga memiliki ilustrasi yang detail untuk kartu minornya dengan makna kartu berdasarkan sistem tarot Golden Dawn.

Ada beberapa cara untuk mengekstrak (atau memberikan) makna pada kartu minor TdM dan dek sejenis yang tidak memiliki ilustrasi tentang makna kartu. Sebagian orang menerapkan makna kartu dari RWS terhadap TdM. Sebagian lainnya menerapkan makna sesuai tulisan Etteilla. Sementara itu ada juga cara lain, yakni melalui numerologi dan menafsirkan kesan-kesan visual pada kartu.

Melalui metode numerologi, kita hubungkan makna suatu angka dengan karakteristik dari suit yang ada (pedang, tongkat, cawan, dan koin). Makna empat suit merupakan hal yang cukup umum, namun yang menjadi masalah sekarang adalah apa makna angka-angka 1 sampai 10?

 

Numerologi Barat

Suatu metode yang umum digunakan adalah dengan menggunakan sistem numerologi Barat, yang dikenal juga dengan nama numerologi Pythagoras. Kurang lebih seperti ini sistemnya:

  1. Permulaan, potensi, inspirasi, dorongan.
  2. Keseimbangan, percabangan, pertemanan, persetujuan.
  3. Pertumbuhan, kreatifitas, komunikasi.
  4. Struktur, pondasi, stabilitas.
  5. Ketidakstabilan, gangguan, perubahan.
  6. Harmoni, perasaan empatik, sosialisasi.
  7. Introspeksi, kebijaksanaan.
  8. Gerakan, perubahan, keberhasilan.
  9. Pencapaian, keutuhan.
  10. Akhir dan pembaharuan, dapat juga diartikan sebagai bentuk lain dari angka 1.

Setelah mendapat daftar makna angka, selanjutnya kita tinggal gabungkan dengan makna suit sehingga didapat arti yang utuh:

  • Dua (pertemanan) + cawan (emosi, hubungan sosial) = persahabatan.
  • Tiga (pertumbuhan) + tongkat (kehendak, masa depan) = jalan hidup baru.
  • Empat (stabilitas) + koin (materi) = kondisi finansial stabil atau stagnan.
  • Lima (gangguan) + pedang (kata-kata, hambatan) = cekcok atau adu mulut.

Pada awalnya cara ini terasa masuk akal. Namun berdasarkan pengalaman saya, cara ini kurang cocok untuk diterapkan pada TdM, terutama versi Conver. Saat melakukan pembacaan, menafsirkan arti kartu berdasarkan sistem di atas tidak menghasilkan gambaran yang akurat. Terkadang antara pertanyaan dengan jawaban sama sekali tidak nyambung. Tapi jika kartu yang muncul dibaca sesuai dengan fitur-fitur visualnya (bentuk daun dan bunga) jawabannya justru cocok.

 

Membaca Ornamen Kartu

Dalam dek Conver (dan sebagian besar dek TdM yang lain) kartu minor dengan angka yang sama memiliki cara penggambaran yang berbeda-beda tergantung suit-nya. Sebagai contoh, kartu enam tongkat menunjukkan ornamen bunga yang dibuat lebih meriah dengan daun yang menjalar seperti pita. Sementara itu enam cawan digambarkan tertata rapi namun dipisahkan oleh sesuatu yang berbentuk seperti tombak. Contoh lain adalah kartu delapan koin dan delapan pedang. Dalam kartu delapan koin, ornamen tumbuhan yang ada terlihat sedang tumbuh subur dan bunganya mekar. Akan tetapi pada kartu delapan pedang, ornamen bunganya terlihat seperti dikurung dalam ruang sempit di antara delapan buah pedang.

tarot-comparison

CBD Tarot (c) Yoav Ben-Dov. http://www.cbdtarot.com/

Inkonsistensi seperti ini membuat kita tidak dapat memberi makna yang kaku pada setiap angka. Setiap kartu perlu diartikan masing-masing sesuai konteksnya, tanpa melihat berapa angka yang dimunculkan. Dinamika yang sama dapat juga kita jumpai dalam dek RWS, di mana kartu tiga cawan memiliki arti positif sedangkan tiga pedang mengandung arti negatif.

Menurut Ben Dov (yang dipengaruhi oleh pendapat Jodorowsky) arti kartu tarot dipelajari melalui intuisi, dengan ilustrasi kartu digunakan sebagai petunjuk atau alat bantu. Jadi, kita lihat gambar kartu secara keseluruhan lalu menggunakan detail kartu sebagai analogi untuk menemukan makna. Misalnya dalam kartu sepuluh koin, selain terdapat banyak koin juga terdapat bunga yang mekar beserta daunnya. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai kekayaan yang melimpah. Tapi jika kita perhatikan dengan teliti, tujuh koin memiliki titik merah di tengahnya sedangkan yang tiga tidak. Ini bisa diartikan bahwa ada kesenjangan dalam pembagian kekayaan tersebut.

Sisi buruk dari cara ini adalah ketepatan penafsiran sangat bergantung pada intuisi sang pembaca tarot. Bagi pembaca yang kurang intuitif, menggunakan numerologi sebagai acuan mungkin akan lebih bermanfaat. Alternatif lain adalah menggunakan daftar arti kartu yang sudah ada (Etteilla atau RWS).

Sebagai penutup, saya hendak memberi tahu bahwa berdasarkan pengalaman saya selama ini, Tarot de Marseille merupakan tipe tarot yang sangat cair dalam penafsirannya. Tidak ada cara yang pasti untuk mengetahui makna suatu kartu. Hari ini suatu kartu berarti A, besok artinya B. Arti dari masing-masing kartu, baik kartu mayor maupun minor, selalu berubah-ubah tergantung pertanyaan yang diajukan dan posisinya dalam tebaran.

Dari Rider-Waite-Smith Menuju Tarot de Marseille (2)

Beberapa waktu yang lalu, saya tulis bahwa Conver-Ben-Dov Tarot yang saya download akan segera dicetak. Kemarin saya baru saja mencetak dan menggunting dek CBD Tarot dan rasanya sungguh berbeda dengan Rider-Waite-Smith. Keduanya terasa sama-sama hidup, tapi mereka seperti punya “kepribadian” yang berbeda. Saya katakan pada mereka, “Coba tunjukkan seperti apa kepribadianmu!”, dan inilah jawabannya:

CBD Tarot de Marseille oleh Dr. Yoav Ben-Dov, www.cbdtarot.com

CBD Tarot de Marseille oleh Dr. Yoav Ben-Dov, www.cbdtarot.com

Kartu yang keluar dari RWS mempunyai komposisi warna kuning yang dominan, ditambah dengan kartu The Sun, menunjukkan keceriaan. Strength dan The Empress menunjukkan figur yang kuat namun tidak agresif. Sepertinya RWS merupakan tipe yang memberikan semangat dan nasihat di saat kita galau. Atau, bisa dibilang RWS merupakan dek yang baik untuk tujuan konseling.

Sedangkan CBD sepertinya berusaha untuk menyeimbangkan antara hal-hal yang materiil dengan yang non-materiil, yang internal dengan yang eksternal. Satu hal yang menarik adalah semua figur yang ada menoleh ke arah L’Hermite. Jadi, tujuan dari penyeimbangan ini adalah untuk perenungan, pencarian jati diri, dan perkembangan spiritual tanpa mengesampingkan hal-hal duniawi.

Menarik, bukan?

Dari Rider-Waite Menuju Marseille

Selama beberapa bulan terakhir aku menggunakan kartu tarot Rider-Waite karena tarot jenis ini yang selalu disarankan untuk pemula. Jenis tarot ini merupakan yang paling umum digunakan di dunia, sehingga sudah banyak buku dan artikel yang membahas bagaimana cara menafsirkan kartunya. Gambar-gambar pada kartu juga cukup jelas menggambarkan gagasan umum dari kartu itu sendiri.

Tarot Rider-Waite sendiri sebenarnya merupakan hasil modifikasi dari kartu-kartu tarot yang sudah ada sebelumnya, seperti Tarot de Marseille. Namun, salah satu perbedaan yang mencolok antara kartu Rider-Waite dengan Tarot de Marseille adalah adanya ilustrasi untuk kartu-kartu arkana minor. Tidak seperti Tarot de Marseille yang hanya menggunakan gambar-gambar dan pola-pola sederhana yang tidak mennggambarkan maksud tertentu. Perancang dari kartu tarot ini adalah E.A. Waite, seorang yang mendalami mistisisme dan hal-hal berbau supranatural melalui tradisi Golden Dawn. Pelukis asli kartu ini, Pamela Colman-Smith, juga merupakan anggota Golden Dawn. Tidak heran jika tarot Rider-Waite dipenuhi simbol-simbol esoterik Golden Dawn.

Dapat kita lihat bahwa di kartu 10 of Pentacles dalam Rider-Waite, koin-koinnya membentuk pola Pohon Kehidupan. Dalam Kabbalah, sephira yang kesepuluh adalah Malkuth dan ia melambangkan hal-hal yang bersifat materiil secara umum. Jika kamu mendalami dan mempraktikkan ajaran-ajaran Golden Dawn maka menggunakan kartu Rider-Waite adalah pilihan yang baik sebab ada banyak simbol-simbol yang dapat dijadikan rujukan. Tapi jika tidak?

Pada awalnya simbol-simbol dan gambar-gambar yang ada pada kartu Raider-Waite cukup membantu dalam menafsirkan hasil “ramalan” yang saya lakukan. Penggambaran dalam arkana minor bisa dibilang sangat gamblang. Tidak perlu buka-buka buku, cukup lihat gambarnya saja dan akan langsung ketahuan apa maksudnya. Akan tetapi setelah aku mulai berpengalaman, sepertinya gambar-gambar yang muncul (terutama dalam arkana minor) justru mengganggu.

Aku butuh simbol-simbol yang lebih fleksibel.

Beberapa hari yang lalu aku temukan bahwa Dr. Yoav Ben-Dov telah merekonstruksi ulang Tarot de Marseille buatan Nicholas Conver dan membagikan gambar satu set tarotnya secara gratis. Saat aku perhatikan, kartu-kartu ini terlihat begitu sederhana, cair, hidup, dan begitu alami. Jika dibandingkan, Rider-Waite terkesan dipaksakan, kaku, dan sangat formal.

Dalam kartu The Magician kita dapat lihat gambar seorang penyihir dengan empat alat magis (pedang, tongkat, cawan, dan perisai) di atas altar. Benda-benda yang ada di altar dan gerak tubuh sang penyihir memiliki makna khusus. Ia mengetahui misteri alam semesta, ia mempengaruhi kekuatan-kekuatan alam semesta, dan ia mengubah impiannya menjadi kenyataan, melalui sihir.

Le Bateleur

CBD Tarot de Marseille oleh Dr. Yoav Ben-Dov, http://www.cbdtarot.com

Akan tetapi, dalam Tarot de Marseille arkana mayor yang pertama ada Le Bateleur. Kartu ini tidak menggambarkan secara spesifik apa yang sedang dilakukan oleh orang yang tergambar. Tapi yang pasti ia sedang melakukan (atau paling tidak merencanakan) sesuatu, apapun itu. Le Bateleur juga menoleh ke sebelah kanannya. Hmm… kira-kira apa yang sedang ia pikirkan?

Konon katanya, kekurangan dari Tarot de Marseille adalah arkana minor yang tanpa ilustrasi khusus, sehingga sulit untuk mengekstrak informasi yang digambarkan melalui kartu. Tidak ada “kamus” yang bisa dijadikan rujukan, jadi mau tidak mau kita hanya bisa mengandalkan pemahaman dan intuisi masing-masing.

Tapi jika dipikir-pikir, “kekurangan” Tarot de Marseille justru bisa dianggap sebagai suatu kelebihan! Jika kita bertujuan untuk mengasah intuisi, tentu saja menggunakan simbol-simbol yang sangat abstrak bisa banyak membantu. Anggap saja seperti tes Rorschach: gambar-gambar itu tidak memiliki makna khusus, tapi kita yang memberikannya makna.

Rasanya sudah tidak sabar untuk segera menggunakan Tarot de Marseille. Tapi sebelumnya, aku harus mencetak kartunya dulu…