Berdoa

Tidak jarang seseorang yang merasa tidak memiliki kuasa kemudian berdoa. Ia berharap agar kekuatan yang ada di luar dirinya mau mengikuti kemauan hatinya. Akan tetapi karena manusia hanya berinteraksi dengan sesama manusia, terkadang si pendoa lupa bahwa yang dia mintai pertolongan bukanlah manusia.

Konon katanya, Yang Maha Kuasa adalah serba bisa (omnipotens) dan kekal abadi (eternal). Sementara itu, manusia tidak serba bisa dan juga tidak kekal. Oleh karena itu, sangat mungkin jika Tuhan dan manusia memiliki persepsi yang berbeda. Bagaimana manusia memandang kehidupannya dan bagaimana ia menanggapinya, dibandingkan dengan bagaimana Tuhan memandang kehidupan manusia dan bagaimana Ia menanggapinya; jelas ada celah yang tidak dapat diisi oleh nalar manusia.

Jika Tuhan memang omnipotens dan eternal, maka sudah pasti Tuhan tidak terbatasi oleh waktu. Jika bagi manusia waktu mengalir lurus, masa lalu sudah lewat dan masa depan masih belum tiba, tentu bagi Tuhan tidaklah demikian.

Karena itu setiap aku berdoa, aku selalu berpikir, “Bagaimana Tuhan memandangku?”. Mengingat bahwa Yang Maha Kuasa tidak dibatasi oleh waktu, aku membayangkan diriku sendiri sejak dilahirkan hingga kemudian mati. Di saat itulah aku justru tersenyum puas dan bahagia. Aku menyadari bahwa aku sudah memiliki semua yang aku butuhkan, dan aku tidak perlu ragu akan masa depan.

Iklan

Sebagai seorang introvert yang kurang bergaul dan tidak punya banyak teman, aku pernah ditanya,

“Apa kamu tidak kesepian?”

Tidak. Justru sebaliknya.

Kita hidup di dunia yang penuh hingar bingar. Meskipun kita diam sendiri di tengah lautan atau padang pasir, masih ada suara-suara di sekitar kita. Suara binatang, suara angin, suara air, dan juga suara-suara tubuh kita sendiri. Meski kita ini tuli sekalipun, masih ada suara yang dapat kita “dengarkan”.

Pikiran dan perasaan kita tidak pernah tenang. Tidak pernah diam.

Bising

Masa depan yang tak menentu

Kita hidup di masa yang penuh kemudahan. Berkat kemajuan teknologi, berbagai bidang dalam kehidupan mengalami perkembangan pesat. Transportasi sekarang sudah menjadi mudah, cepat, dan murah. Kita dapat membeli buah yang dipanen di Tiongkok dan Amerika di minimarket dekat rumah. Penyebaran informasi menjadi sangat cepat dan menjangkau seluruh dunia.

Sekilas, tampaknya semua ini hanya akan menjadi lebih baik. Tetapi belakangan saya menjadi putus asa terhadap kelangsungan hidup kita sebagai Homo sapiens di masa yang akan datang.

Tidak banyak orang yang menyadari bahwa semua kemudahan yang kita dapatkan saat ini sangat bergantung terhadap tersedianya bahan bakar fosil. Mesin-mesin industri, alat transportasi, serta perangkat elektronik yang kita miliki sekarang dapat dijalankan karena adanya bahan bakar fosil yang murah dan melimpah. Sayangnya, bahan bakar fosil yang ada sangatlah terbatas. Bahan bakar fosil yang terbentuk selama jutaan tahun dihabiskan hanya dalam tiga ratus tahun. Jika kita kehabisan bahan bakar fosil, lantas bagaimana?

Sumber energi terbarukan kurang dapat diandalkan. Matahari, angin, air, tidak dapat memasok semua kebutuhan listrik kita. Hasilnya pun tidak pasti. Kadang banyak dan kadang sedikit. Energi nuklir sangat mahal. Ditambah lagi limbah radioaktifnya, mau dibuang ke mana? Energi fosil memang tidak dapat digantikan.

Kemungkinan besar kita harus mengubah gaya hidup kita. Hidup dengan lebih sederhana. Konsumsi energi kita saat ini tidak dapat tercukupi di masa depan. Kita terlalu boros.

Jangan lupakan perubahan iklim. Jika permukaan laut naik, akan tersisa sedikit lahan yang dapat ditempati. Sekarang saja lahan pertanian sudah tergusur oleh pemukiman. Penebangan hutan malah merusak ekosistem dan memicu bencana alam. Entah bagaimana nantinya pertanian kita, lahannya berkurang, tanahnya tidak subur, dan iklimnya tidak kondusif.

Dengan semakin meningkatnya populasi manusia, masalah yang ada jadi semakin runyam. Bumi kita tidak mempunyai cukup sumber daya untuk menopang keberlangsungan manusia. Akankah kita punya tempat bernaung? Akankah kita dapat makan? Kemungkinan terjadinya wabah, kelaparan, bahkan perang akan semakin meningkat.

Kita terlalu serakah, dan anak cucu kita yang akan memikul beban berat akibat kebodohan kita.

Dogmatisme “ilmiah”

Ada beberapa orang yang sepertinya begitu terpesona dengan sains hingga percaya bahwa apapun yang ilmiah sudah pasti benar dan apa yang tidak ilmiah sudah pasti salah. Menurut orang-orang ini, sains dapat dijadikan sebagai tolak ukur kebenaran karena ia terlepas dari subjektivitas dan dogma-dogma. Meskipun hal itu benar secara normatif, namun apa yang sebenarnya terjadi tidaklah selalu demikian.

Meskipun sains sebagai ilmu tidak dapat kita salahkan, namun para ilmuwan dapat terjebak dalam kesesatan yang di-ilmiah-kan. Sebagai contoh, teori heliosentrisme sebenarnya sudah dikemukakan oleh Aristarchus dari Samos pada sekitar abad ke-3 SM. Namun, hingga abad ke-17 teori ini masih belum dapat diterima oleh kalangan luas. Alasannya? Sebagian besar ilmuwan di masa lalu menganggap bahwa teori heliosentrisme tidak ilmiah. Contoh lainnya adalah pada saat Isaac Newton mengemukakan teori gaya gravitasi, tidak sedikit ilmuwan yang menolak teori tersebut dan malah menuduh Newton hendak menyusupkan konsep-konsep okultisme ke dalam ilmu alam.

Kita dapat saksikan bahwa selama perkembangannya, sains adalah sesuatu yang sangat dinamis. Apa yang ditolak pada masa lalu kemudian diterima pada masa selanjutnya, begitu pun sebaliknya. Teori-teori yang ada selalu ditinjau ulang, diperbaiki, atau bahkan diganti sepenuhnya. Pada akhirnya kita perlu mengingat bahwa ada banyak sekali hal yang belum kita ketahui, dan agar sains dapat terus berkembang kita perlu bersikap skeptis bahkan terhadap temuan-temuan yang dianggap ilmiah pada saat ini.

Ladang ranjau okultisme

“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah memikirkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami’. Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, akan menyebabkan kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya.”

Buddha Gautama

Okultisme adalah sebuah bidang yang dipenuhi bahaya, terutama bahaya penalaran dan pemahaman sesat. Jika dalam topik kehidupan sehari-hari ada banyak sekali salah kaprah dan omong kosong yang beredar, lantas bagaimana dengan topik yang menyangkut hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, yang tidak dapat dibuktikan kebenaran dan kesalahannya? Bagaimana jika setiap sumber informasi isinya saling bertentangan satu sama lain?

Pandangan seseorang sangat dipengaruhi oleh kebudayaan, kepercayaan, dan pengalaman hidupnya sendiri. Terlebih lagi karena okultisme bukanlah ilmu eksakta, hal yang mustahil pun dapat dibenarkan sebagai wahyu ilahi. Sebagai contoh (ini kisah nyata), ada dua orang yang mengaku bisa melihat pusaran energi Kakbah. Salah satu orang tersebut mengatakan bahwa di sekeliling Kakbah terdapat aliran energi putih terang yang menjulang sampai ke angkasa, menembus langit. Di lain pihak, orang yang lainnya lagi mengatakan bahwa di sekeliling Kakbah terdapat pusaran energi hitam berbentuk tanduk setan sebagai pertanda kuasa gelap. Dari ‘kesaksian’ mereka dapat kita lihat bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal-hal seperti ini.

Kesimpulannya, it’s all bullshit!

Kehidupan magis

Aleister Crowley

Kebanyakan orang akan berpikiran tentang fenomena-fenomena supranatural, klenik, ritual-ritual aneh, pesugihan, pelet, dan lain-lain saat membaca judul di atas. Akan tetapi, bagi saya kehidupan magis sangat jauh dari hal-hal demikian.

Pertama-tama, apa itu “magis?” Dalam KBBI, terdapat entri magi dan magis dengan keterangan berikut:

ma·gis a bersifat magi; berkaitan dng hal atau perbuatan magi: tarian yg mengandung nilai magi disebut tarian —

ma·gi n sesuatu atau cara tertentu yg diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib dan dapat menguasai alam sekitar, termasuk alam pikiran dan tingkah laku manusia;
hitam magi yg digunakan untuk tujuan jahat; — putih magi yg digunakan untuk tujuan baik

Perlu kita ingat bahwa definisi di atas dibuat berdasarkan pemaknaan kata magis dalam masyarakat Indonesia. Ini merupakan definisi yang populer dan baku dalam bahasa dan budaya Indonesia, namun bukan berarti kata magis tidak dapat diartikan secara lain.

Sekarang mari kita simak apa pendapat Aleister Crowley mengenai makna kata magis:

“What is a Magical Operation? It may be defined as any event in nature which is brought to pass by Will. We must not exclude potato-growing or banking from our definition. Let us take a very simple example of a Magical Act: that of a man blowing his nose.”

Dengan definisi di atas maka apapun yang terjadi, selama itu dikehendaki, adalah suatu fenomena magis. Ini berarti menjalankan kehidupan seperti apa adanya, tanpa embel-embel mantra, ritual, dan makhluk gaib merupakan suatu tindakan magis. Saat kita bangun pagi, itu magis. Saat kita makan, juga magis. Saat kita berdoa, apalagi!

Bayangkan saat PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir karena pasokan listrik berkurang. Pada suatu malam di hari dan jam yang sudah ditentukan, petugas PLN memadamkan arus listrik di suatu kampung. Ajaib! Satu kampung yang tadinya terang benderang jadi gelap gulita. Lalu penduduk kampung menyadari bahwa listrik padam, dan mulailah muncul beragam reaksi. Ada yang marah dan secara refleks membanting stik PS ke arah layar TV. Ada yang kesal dan mulai mengeluarkan sumpah serapah pada PLN. Ada yang takut gelap dan berdoa supaya lekas terbit terang. Dan ada juga yang mengambil dan menyalakan lilin agar dapat melihat dalam gelap.

Sekarang, coba hitunglah ada berapa banyak fenomena magis yang terjadi di kampung itu!

Tentunya menulis blog ini juga merupakan suatu ritual magis bagi saya, dan seandainya ada yang bertanya bagaimana rasanya menjalankan ritual magis, saya akan sarankan orang itu untuk mendengarkan Brandenburg Concerto No. 4 karya Bach, kemudian menyuruhnya untuk membayangkan bagaimana rasanya mengaransemen semua nada-nada itu, belajar memainkan semua alat musiknya, lalu menjadi konduktor. Enjoy the magic!

Mengapa takut mati?

Menimbang jantung roh

Sudah pasti bahwa kita semua pasti akan mati, dan sekaligus juga takut akan kematian. Tapi mengapa kematian terasa begitu mengerikan? Pada umumnya manusia itu:

1. Takut menghadapi sesuatu yang tidak diketahui,
2. Takut kehilangan apa yang sudah dimiliki,
3. Takut menerima sesuatu yang tidak diinginkan.

Untuk menghilangkan rasa takut ini, kita harus membangun pemahaman dan kebiasaan yang baik:

1. Melihat sesuatu sebagai mana adanya. Pandangan kita terhadap kematian sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, kebudayaan, dan khayalan saat kita hidup. Tapi, apakah semua itu benar? Apa yang terjadi setelah mati bisa sangat jauh dari dugaan.

2. Membiasakan untuk melepaskan apa yang sudah dimiliki sebagai sesuatu yang niscaya dan bermanfaat. Tidak ada sesuatu yang abadi, dan apa yang sudah kita miliki pada saatnya juga akan kita tinggalkan. Salah satu cara membangun kebiasaan untuk ‘melepas’ adalah dengan berderma dan mengalah tanpa pamrih, tanpa mengharap terima kasih orang lain. Kita juga harus melihat sisi positif dari kehilangan, dan dengan sadar memanfaatkan masa-masa di mana kita merasa kehilangan sebagai peluang untuk berbenah diri.

3. Membiasakan untuk bertanggung jawab atas pikiran dan perbuatan. Semasa hidup kita dapat mencar-cari alasan dan menyalahkan orang lain. Namun, setelah kita mati hal ini tidak dapat lagi dilakukan. Karena itu, kita harus selalu waspada terhadap segala sesuatu yang kita pikirkan, rasakan, ucapkan, dan lakukan. Perhatikan alasan mengapa ‘ini’ semua terjadi, dan apa akibatnya. Setelah itu, terima akibatnya dengan lapang dada.

Dalam mitologi kematian Mesir kuno, setelah manusia mati kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari kebenaran dan keadilan Ma’at secara spontan mencari-cari kesempatan untuk hidup; mereka mengalami reinkarnasi yang tidak diinginkan.

Sementara itu, mereka yang dapat menahan diri akan melanjutkan perjalanannya menuju penghakiman. Di sana, berat jantung (melambangkan roh) dibandingkan dengan berat bulu Ma’at (kebenaran, keadilan). Jika jantungnya lebih berat, maka jantung itu akan dibinasakan.

Yang dinilai bukanlah hasil perbuatannya, melainkan apakah dalam kehidupan sehari-hari pikiran, ucapan, dan perbuatan roh itu sudah ‘seimbang’ dengan Ma’at.

Di dunia ini tidak ada yang sempurna, dan kita tidak harus menjadi sempurna; namun secara perlahan kita dapat menjadi lebih baik dan ‘seimbang.’