Membuat Genmaicha Sendiri

Genmaicha adalah salah satu jenis teh Jepang yang secara historis dikenal sebagai “tehnya orang miskin”. Teh hijau kualitas rendah rasanya sangat sepat dan pahit, sehingga untuk memperbaiki rasanya diperlukan campuran bahan yang lain. Beberapa sumber mengatakan bahwa genmaicha dibuat dengan campuran beras merah atau ketan hitam. Tapi ini tidak masuk akal karena harga beras merah dan ketan hitam justru mahal. Jadi apa bahan tambahan sebenarnya?

Jika kita berpikir seperti orang miskin, tentu jawabannya sangat jelas: nasi sisa.

Sebelumnya saya pernah mencoba membuat genmai dari beras yang disangrai. Aroma dan warnanya sudah cocok, tetapi teksturnya terlalu keras dan tidak larut di air. Kemudian saya coba membuat genmai dari nasi sisa yang dikeringkan lalu disangrai. Ternyata hasilnya cukup memuaskan.

Tentu rasanya tidak akan senikmat genmaicha kualitas tinggi, tetapi jika sudah bosan dengan teh hijau yang itu-itu saja kenapa tidak?

Iklan

Antara yang Asli dan yang Palsu

Anggaplah terdapat sebuah kapal kayu yang baru selesai dirakit. Seseorang melepas salah satu bagian dari kapal itu dan menggantinya dengan bagian yang bahan, bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama. Setelah bagian penggantinya terpasang, ia melakukan hal yang sama pada bagian-bagian yang lain, satu per satu hingga seluruh bagian sudah diganti. Yang kita dapatkan adalah sebuah kapal yang bahan, ukuran, bentuk, dan warnanya sama. Semuanya sama.

Pertanyaan 1: Apakah itu masih kapal yang sama?

Setelah itu, orang aneh ini, yang barusan mengganti semua bagian kapal yang baru dirakit dengan bagian lain yang persis sama, kemudian mengumpulkan bagian-bagian kapal yang tadi ia lepas. Menggunakan bahan yang ia kumpulkan, selanjutanya ia merakit sebuah kapal yang bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama dengan kapal yang pertama. Sekarang terdapat dua buah kapal yang bahan, bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama.

Pertanyaan 2: Mana kapal yang asli dan mana yang tiruan?

Kemenyan: benzoin atau frankincense?

Kemenyan adalah salah satu wewangian yang biasanya diperdagangkan dalam bentuk butiran-butiran seperti kristal yang merupakan resin dari pohon tertentu. Kemenyan dapat diolah menjadi parfum atau dibakar untuk mengharumkan ruangan, sebagai sesajen, dan lain-lain.

Meskipun kata kemenyan tidak asing di telinga kita, akan tetapi sebagian besar orang tidak memahami bahwa kata “kemenyan” merupakan istilah yang rancu. Sebenarnya ada berbagai jenis kemenyan, masing-masing berasal dari pohon yang berbeda dan mamiliki aroma yang berbeda-beda pula.

Kemenyan yang lazim dijumpai di Indonesia adalah jenis kemenyan jawa yang merupakan resin dari tanaman Styrax benzoin. Dalam bahasa Inggris, kemenyan jawa dikenal dengan sebutan gum benjamin atau benzoin resin. Selain kemenyan jawa, terdapat juga dua jenis kemenyan lain yang dapat dengan mudah ditemukan di pasaran, yakni kemenyan toba (Styrax sumatrana) dan kemenyan siam (Styrax tokinensis).

Sementara itu, kemenyan yang disebut-sebut dalam Alkitab adalah kemenyan yang merupakan resin tanaman Boswellia sacra. Di Indonesia, kemenyan jenis ini lazim disebut sebagai kemenyan arab. Dalam bahasa Inggris, kemenyan arab dikenal dengan sebutan frankincense atau olibanum. Kemenyan arab lebih langka dan lebih mahal daripada kemenyan jawa.

Titipan pesan dari seorang teman:

Tuhan mengetahui siapa dirimu, seperti apa perasaanmu, apa yang kamu inginkan, dan yang paling penting: apa yang kamu butuhkan. Seperti apa dirimu sehari-hari, itulah yang Tuhan lihat. Oleh karena itu, berhentilah bersandiwara. Sebagaimana Tuhan mengajarkan kebenaran, maka berkata jujurlah; tidak hanya kepada manusia tetapi juga kepada Tuhan.

Tuhan menerimamu sebagaimana adanya

Shvedov: Liturgy of St. John Chrysostom

Liturgi Santo Yohanes Krisostomus adalah liturgi yang paling umum dalam Gereja Ortodoks. Komposisi musik liturgi ini ditulis oleh Konstantin Nikolaevich Shvedov (Константин Николаевич Шведов; 1886-1954) pada tahun 1930-an. Meskipun begitu, liturgi ini baru pertama kali ditampilkan oleh Slavyanka Russian Male Chorus di Grace Cathedral, San Francisco, pada tanggal 28 Februari 1993.

Saya sendiri paling menyukai Благослови Blagoslovi (“Bless the Lord, o my soul!” – Mazmur 103; urutan kedua dalam playlist). Liturgi ini cukup bagus, tapi sayangnya kurang mendapat publisitas.