Sebuah Kisah Tentang Fae

Pada zaman dahulu sebelum manusia hidup di bumi, sudah ada makhluk yang biasa disebut fae, fairy, atau orang juga menyebut peri. Mereka tinggal di dalam batu, pohon, gua, danau, gunung, hutan, padang pasir, lautan, dan berbagai tempat lain di bumi. Bentuk mereka beraneka ragam. Ada yang menyerupai binatang, ada yang mirip manusia, ada yang setengah manusia dan setengah binatang, dan ada juga yang tidak mirip manusia maupun binatang. Ukuran mereka juga bermacam-macam. Ada yang ukurannya sangat mungil hingga yang berukuran raksasa. Umur mereka juga sangat panjang, antara ratusan hingga ribuan tahun.

Setelah beberapa waktu berlalu, manusia dan fae mulai hidup berdampingan. Manusia sebagai makhluk yang memiliki tubuh fisik berperan menjaga kelestarian alam dan fauna yang ada di sekitarnya.Secara berkala mereka memberi persembahan pada fae. Sebagai gantinya, fae akan menjaga manusia dari bahaya. Mereka akan memperingatkan jika bencana alam akan datang. Mereka menghalau datangnya binatang-binatang liar yang mengganggu manusia. Mereka menjaga agar panen berlimpah, dan menunjukkan pada manusia tempat bersembunyinya logam mulia dan batu permata.

Musim berganti dan tahun berlalu, manusia pun menjadi tua dan akhirnya mati. Kebiasaan-kebiasaan manusia yang lampau untuk menghormati para fae diteruskan ke generasi selanjutnya. Bagi manusia ini adalah tradisi nenek moyang yang terus menerus dijaga. Akan tetapi bagi fae, waktu seratus tahun berlalu begitu cepat. Mereka tidak sadar bahwa manusia yang dahulu berkawan dengan mereka sudah lama tiada. Ketika para anak, cucu, dan cicit manusia menghadap mereka dengan persembahan-persembahan, yang mereka lihat adalah orang yang sama dengan yang mereka temui ratusan tahun sebelumnya. Antara orang tua dan anak manusia, mereka tidak tahu apa bedanya.

smokestacks

Sayangnya, tidak ada yang kekal di dunia ini. Pada akhirnya manusia-manusia muda tidak lagi mengindahkan apa kata leluhur mereka. Mereka berhenti memberikan persembahan. Mereka menebangi hutan-hutan. Mereka membunuhi binatang tanpa rasa hormat ataupun belas kasihan. Mereka meracuni udara, tanah, dan perairan.

Melihat hal ini para fae merasa dikhianati. Baru sebentar berteman, tiba-tiba manusia sudah ingkar janji. Sebagian besar fae kemudian menyingkir menjauhi peradaban manusia dan tinggal di tempat yang terpencil. Mereka bersembunyi dari manusia, supaya kehidupan mereka tidak diganggu. Namun sebagian dari mereka marah besar terhadap manusia. Mereka menebarkan teror, membuat suara-suara mengerikan di waktu malam, melemparkan benda-benda di rumah manusia, menampakkan diri mereka dalam wujud seram di hadapan manusia, bahkan hingga menyebabkan kegilaan.

Untungnya masih ada fae yang mau berteman dengan manusia. Mereka suka dengan manusia yang mencintai alam dan makhluk hidup yang ada di dalamnya. Saat manusia-manusia baik hati ini datang mendekati kediaman para fae, mereka sangat senang dan berharap agar manusia yang baik ini hidup bersama mereka. Hidup bersama mereka selamanya, jauh dari manusia-manusia jahat. Karena itulah mereka membisikkan kepada manusia, “Datanglah kemari…”, “Hiduplah bersama kami…”, “Tidurlah di sini…

Jika manusia itu menuruti bisikan-bisikan ini, biasanya mereka ditemukan tewas atau menghilang secara misterius. Roh mereka hidup bersama fae, dan entah apakah mereka bisa kembali lagi atau tidak.

Tentu saja, masih banyak fae yang tinggal bersama manusia, termasuk di kota-kota besar. Seandainya kamu pernah merasa seperti melihat bayangan gelap secara sekilas di rumah, ada kemungkinan bahwa itu adalah fae. Mungkin mereka penasaran denganmu. Mungkin mereka ingin menjagamu atau menunjukkanmu sesuatu. Atau mungkin juga mereka sedang menunggu saat kamu lemah, agar mereka dapat mengacaukan hidupmu.

Berhati-hatilah terhadap mereka.

*Tambahan (13/03/2016)

  • Selain dengan bentuk bayangan, terkadang peri/fae juga muncul dalam bentuk bola api/pendaran cahaya.
  • Terkadang fae juga dapat membuat orang tersesat di gunung dan hutan. Orang yang terjebak dalam ilusi fae akan merasa berjalan ke arah yang benar meskipun sebenarnya mereka berjalan berputar-putar dan tak sadar bahwa mereka sudah pernah melalui jalan yang sama. Cara lain yang digunakan fae adalah dengan menggerakkan anggota tubuh, seperti membuat kaki berjalan sendiri ke arah tertentu.
  • Fae tidak suka dengan benda yang terbuat dari besi, semisal paku, gunting, dan pisau.

Cara Membakar Kemenyan

Seperti yang sudah dibahas pada postingan sebelumnya, sebagian besar dupa yang beredar di pasaran mengandung parfum kimia. Selain dupa bakar, banyak minyak wangi yang dijual di pasaran juga mengandung campuran bahan kimia. Ini berarti bahwa untuk menikmati aroma alami dengan harga terjangkau, pilihan yang ada hanya membakar rempah-rempah dan resin kemenyan (dan memelihara tumbuhan wangi, tapi tidak bisa dinikmati setiap saat).

Incense burning 1

Cara yang umum digunakan untuk menikmati aroma kemenyan adalah dengan dibakar menggunakan arang. Pertama-tama, siapkan sebuah wadah yang tahan api. Wadah bisa terbuat dari logam, tembikar, atau keramik. Untuk mencegah agar wadah pembakaran tidak terlalu panas, wadah dapat diisi dengan abu atau pasir putih. Selanjutnya tentu menambahkan arang panas. Untuk arangnya, terdapat arang khusus yang tidak berbau dan tidak berasap. Arang jenis ini dapat dibeli di toko-toko yang menjual oud dan bukhoor.

Satu poin penting disini adalah arang harus terbakar seluruhnya hingga warnanya merah menyala dan menghasilkan lapisan abu sebelum digunakan untuk membakar kemenyan. Jika arang belum terbakar seluruhnya, bisa dipastikan bara apinya akan cepat sekali padam. Terutama jika kemudian ditambahkan kemenyan di atasnya, bisa jadi bara apinya akan langsung padam seketika.

Setelah arang panas disimpan di wadah pembakaran, sudah saatnya untuk menambahkan kemenyan. Butiran resin kemenyan dapat langsung ditambahkan di atas arang atau ditumbuk dahulu. Untuk memudahkan penakaran, disarankan untuk menumbuk kemenyan terlebih dahulu. Selanjutnya jika kemenyan ditabur langsung di atas arang, maka akan dihasilkan asap yang tebal dan bau yang menyengat. Hal ini disebabkan oleh resin yang langsung terbakar saat menyentuh bara api. Untuk menghindari hal ini, kemenyan dapat ditaruh di samping arang, atau menaruh alumunium foil di atas arang lalu menaruh kemenyan di atas lapisan alumunium foil ini. Dengan kedua cara ini, minyak atsiri yang terkandung di dalam kemenyan akan menguap secara perlahan tanpa terlalu banyak membakar resin sehingga aromanya akan lebih segar.

55211m_m_l

Cara lain untuk menikmati aroma kemenyan tanpa menggunakan arang adalah dengan oil burner yang biasa digunakan untuk memanaskan minyak atsiri (essential oil). Bentuknya menyerupai tungku dengan ruang kecil untuk menaruh lilin. Dengan cara ini, kita cukup menyalakan lilin dan menabur serbuk kemenyan di bagian atas burner.

Kekurangannya, kemenyan tidak bisa dipanaskan terlalu lama karena lilinnya akan cepat mencair. Nyala api lilin juga akan membentuk jelaga yang jika tidak dibersihkan dapat mengotori meja dan lantai. Selain itu sisa resin yang tidak menguap akan mengeras dan membentuk lapisan yang harus dibersihkan.

Meskipun begitu, memanaskan kemenyan dengan oil burner menghasilkan aroma yang jernih dan konsisten. Itulah sebabnya saya lebih menyukai cara ini, meskipun membersihkan sisa resin dan jelaganya agak repot.

Dupa Alami dan Dupa Sintetis: Kenali Perbedaannya!

Dewasa ini, ada banyak sekali jenis dan merek dupa yang beredar di pasaran. Namun tidak banyak orang yang tahu bahwa sebagian besar dupa yang dijual di toko-toko adalah dupa sintetis atau yang terbuat dari bahan kimia. Bagi orang yang ingin menggunakan dupa sekedar untuk mengharumkan ruangan tentu tidak masalah. Tapi untuk keperluan religius, magis, dan terapi, menggunakan dupa alami berkualitas tinggi merupakan hal yang penting. Masalahnya adalah sebagian besar produsen dupa tidak mencantumkan apakah dupa buatannya 100% alami atau mengandung zat kimia. Karena itu kita sebagai konsumen harus lebih jeli dalam memilih produk yang akan dibeli. Berikut ini adalah beberapa ciri pembeda antara dupa alami dan dupa sintetis.

 

Bahan dan Proses Pembuatan

Aroma dupa alami berasal dari resin, minyak atsiri, serta serbuk tanaman-tanaman yang harum. Bahan-bahan ini dicampurkan ke dalam komponen utama dupa dan wanginya akan keluar saat dupa dibakar.

Aroma dupa sintetis berasal dari parfum kimia. Biasanya dupa sintetis dicelupkan ke dalam atau disemprot dengan parfum kimia.

Perlu diingat bahwa dupa yang dibuat dengan tangan bukan jaminan bahwa dupa tersebut berbahan dasar alami.

 

Aroma Dupa

Dupa alami wanginya lembut, kecuali untuk beberapa jenis tertentu.

Dupa sintetis aromanya sangat menyengat. Bila dihirup terlalu banyak dapat menimbulkan pusing-pusing.

 

Warna Dupa

Dupa alami memiliki warna yang agak pucat dan terkadang juga ada bercak-bercaknya.

Dupa sintetis memiliki warna yang mencolok dan sangat pekat. Sebagian besar hio sembahyang yang berwarna merah mengandung pewangi dan pewarna sintetis.

 

Harga Dupa

Sudah pasti harga dupa alami lebih mahal dari dupa sintetis.

 

“Di kemasan dupa yang dijual di toko terdapat tulisan ‘nature’ atau ‘natural’. Apakah artinya dupa ini dupa alami?”

Belum tentu. Tulisan ‘natural’ pada kemasan dupa maksudnya adalah dupa tersebut mempunyai aroma alam (aroma kayu dan bunga). Bukan berarti bahannya 100% alami. Sebagai contoh ada banyak sekali dupa yang beraroma cendana. Labelnya “natural”. Tapi coba bayangkan, cendana adalah jenis kayu langka yang mahal harganya. Mana mungkin semua dupa di pasaran menggunakan cendana asli?

 

Demikian postingan kali ini, semoga bermanfaat.

Makna Kartu Minor Tarot de Marseille

Di negara asalnya, Italia dan Perancis, tarot lebih dikenal sebagai alat permainan. Ilustrasi kartu tarot tradisional, salah satunya Tarot de Marseille (TdM), lebih sederhana dan kartu minornya justru mirip dengan kartu remi. Karenanya, “meramal” dengan dek seperti ini agak sulit bagi kebanyakan orang. Hal ini sangat berbeda dengan kartu tarot modern seperti dek Rider-Waite-Smith (RWS) yang populer di Inggris dan Amerika Serikat. Dek RWS memang dirancang untuk digunakan sebagai alat “peramalan” (divination) sehingga memiliki ilustrasi yang detail untuk kartu minornya dengan makna kartu berdasarkan sistem tarot Golden Dawn.

Ada beberapa cara untuk mengekstrak (atau memberikan) makna pada kartu minor TdM dan dek sejenis yang tidak memiliki ilustrasi tentang makna kartu. Sebagian orang menerapkan makna kartu dari RWS terhadap TdM. Sebagian lainnya menerapkan makna sesuai tulisan Etteilla. Sementara itu ada juga cara lain, yakni melalui numerologi dan menafsirkan kesan-kesan visual pada kartu.

Melalui metode numerologi, kita hubungkan makna suatu angka dengan karakteristik dari suit yang ada (pedang, tongkat, cawan, dan koin). Makna empat suit merupakan hal yang cukup umum, namun yang menjadi masalah sekarang adalah apa makna angka-angka 1 sampai 10?

 

Numerologi Barat

Suatu metode yang umum digunakan adalah dengan menggunakan sistem numerologi Barat, yang dikenal juga dengan nama numerologi Pythagoras. Kurang lebih seperti ini sistemnya:

  1. Permulaan, potensi, inspirasi, dorongan.
  2. Keseimbangan, percabangan, pertemanan, persetujuan.
  3. Pertumbuhan, kreatifitas, komunikasi.
  4. Struktur, pondasi, stabilitas.
  5. Ketidakstabilan, gangguan, perubahan.
  6. Harmoni, perasaan empatik, sosialisasi.
  7. Introspeksi, kebijaksanaan.
  8. Gerakan, perubahan, keberhasilan.
  9. Pencapaian, keutuhan.
  10. Akhir dan pembaharuan, dapat juga diartikan sebagai bentuk lain dari angka 1.

Setelah mendapat daftar makna angka, selanjutnya kita tinggal gabungkan dengan makna suit sehingga didapat arti yang utuh:

  • Dua (pertemanan) + cawan (emosi, hubungan sosial) = persahabatan.
  • Tiga (pertumbuhan) + tongkat (kehendak, masa depan) = jalan hidup baru.
  • Empat (stabilitas) + koin (materi) = kondisi finansial stabil atau stagnan.
  • Lima (gangguan) + pedang (kata-kata, hambatan) = cekcok atau adu mulut.

Pada awalnya cara ini terasa masuk akal. Namun berdasarkan pengalaman saya, cara ini kurang cocok untuk diterapkan pada TdM, terutama versi Conver. Saat melakukan pembacaan, menafsirkan arti kartu berdasarkan sistem di atas tidak menghasilkan gambaran yang akurat. Terkadang antara pertanyaan dengan jawaban sama sekali tidak nyambung. Tapi jika kartu yang muncul dibaca sesuai dengan fitur-fitur visualnya (bentuk daun dan bunga) jawabannya justru cocok.

 

Membaca Ornamen Kartu

Dalam dek Conver (dan sebagian besar dek TdM yang lain) kartu minor dengan angka yang sama memiliki cara penggambaran yang berbeda-beda tergantung suit-nya. Sebagai contoh, kartu enam tongkat menunjukkan ornamen bunga yang dibuat lebih meriah dengan daun yang menjalar seperti pita. Sementara itu enam cawan digambarkan tertata rapi namun dipisahkan oleh sesuatu yang berbentuk seperti tombak. Contoh lain adalah kartu delapan koin dan delapan pedang. Dalam kartu delapan koin, ornamen tumbuhan yang ada terlihat sedang tumbuh subur dan bunganya mekar. Akan tetapi pada kartu delapan pedang, ornamen bunganya terlihat seperti dikurung dalam ruang sempit di antara delapan buah pedang.

tarot-comparison

CBD Tarot (c) Yoav Ben-Dov. http://www.cbdtarot.com/

Inkonsistensi seperti ini membuat kita tidak dapat memberi makna yang kaku pada setiap angka. Setiap kartu perlu diartikan masing-masing sesuai konteksnya, tanpa melihat berapa angka yang dimunculkan. Dinamika yang sama dapat juga kita jumpai dalam dek RWS, di mana kartu tiga cawan memiliki arti positif sedangkan tiga pedang mengandung arti negatif.

Menurut Ben Dov (yang dipengaruhi oleh pendapat Jodorowsky) arti kartu tarot dipelajari melalui intuisi, dengan ilustrasi kartu digunakan sebagai petunjuk atau alat bantu. Jadi, kita lihat gambar kartu secara keseluruhan lalu menggunakan detail kartu sebagai analogi untuk menemukan makna. Misalnya dalam kartu sepuluh koin, selain terdapat banyak koin juga terdapat bunga yang mekar beserta daunnya. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai kekayaan yang melimpah. Tapi jika kita perhatikan dengan teliti, tujuh koin memiliki titik merah di tengahnya sedangkan yang tiga tidak. Ini bisa diartikan bahwa ada kesenjangan dalam pembagian kekayaan tersebut.

Sisi buruk dari cara ini adalah ketepatan penafsiran sangat bergantung pada intuisi sang pembaca tarot. Bagi pembaca yang kurang intuitif, menggunakan numerologi sebagai acuan mungkin akan lebih bermanfaat. Alternatif lain adalah menggunakan daftar arti kartu yang sudah ada (Etteilla atau RWS).

Sebagai penutup, saya hendak memberi tahu bahwa berdasarkan pengalaman saya selama ini, Tarot de Marseille merupakan tipe tarot yang sangat cair dalam penafsirannya. Tidak ada cara yang pasti untuk mengetahui makna suatu kartu. Hari ini suatu kartu berarti A, besok artinya B. Arti dari masing-masing kartu, baik kartu mayor maupun minor, selalu berubah-ubah tergantung pertanyaan yang diajukan dan posisinya dalam tebaran.

Antara yang Asli dan yang Palsu

Anggaplah terdapat sebuah kapal kayu yang baru selesai dirakit. Seseorang melepas salah satu bagian dari kapal itu dan menggantinya dengan bagian yang bahan, bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama. Setelah bagian penggantinya terpasang, ia melakukan hal yang sama pada bagian-bagian yang lain, satu per satu hingga seluruh bagian sudah diganti. Yang kita dapatkan adalah sebuah kapal yang bahan, ukuran, bentuk, dan warnanya sama. Semuanya sama.

Pertanyaan 1: Apakah itu masih kapal yang sama?

Setelah itu, orang aneh ini, yang barusan mengganti semua bagian kapal yang baru dirakit dengan bagian lain yang persis sama, kemudian mengumpulkan bagian-bagian kapal yang tadi ia lepas. Menggunakan bahan yang ia kumpulkan, selanjutanya ia merakit sebuah kapal yang bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama dengan kapal yang pertama. Sekarang terdapat dua buah kapal yang bahan, bentuk, ukuran, dan warnanya persis sama.

Pertanyaan 2: Mana kapal yang asli dan mana yang tiruan?

Berdoa

Tidak jarang seseorang yang merasa tidak memiliki kuasa kemudian berdoa. Ia berharap agar kekuatan yang ada di luar dirinya mau mengikuti kemauan hatinya. Akan tetapi karena manusia hanya berinteraksi dengan sesama manusia, terkadang si pendoa lupa bahwa yang dia mintai pertolongan bukanlah manusia.

Konon katanya, Yang Maha Kuasa adalah serba bisa (omnipotens) dan kekal abadi (eternal). Sementara itu, manusia tidak serba bisa dan juga tidak kekal. Oleh karena itu, sangat mungkin jika Tuhan dan manusia memiliki persepsi yang berbeda. Bagaimana manusia memandang kehidupannya dan bagaimana ia menanggapinya, dibandingkan dengan bagaimana Tuhan memandang kehidupan manusia dan bagaimana Ia menanggapinya; jelas ada celah yang tidak dapat diisi oleh nalar manusia.

Jika Tuhan memang omnipotens dan eternal, maka sudah pasti Tuhan tidak terbatasi oleh waktu. Jika bagi manusia waktu mengalir lurus, masa lalu sudah lewat dan masa depan masih belum tiba, tentu bagi Tuhan tidaklah demikian.

Karena itu setiap aku berdoa, aku selalu berpikir, “Bagaimana Tuhan memandangku?”. Mengingat bahwa Yang Maha Kuasa tidak dibatasi oleh waktu, aku membayangkan diriku sendiri sejak dilahirkan hingga kemudian mati. Di saat itulah aku justru tersenyum puas dan bahagia. Aku menyadari bahwa aku sudah memiliki semua yang aku butuhkan, dan aku tidak perlu ragu akan masa depan.

Dari Rider-Waite-Smith Menuju Tarot de Marseille (2)

Beberapa waktu yang lalu, saya tulis bahwa Conver-Ben-Dov Tarot yang saya download akan segera dicetak. Kemarin saya baru saja mencetak dan menggunting dek CBD Tarot dan rasanya sungguh berbeda dengan Rider-Waite-Smith. Keduanya terasa sama-sama hidup, tapi mereka seperti punya “kepribadian” yang berbeda. Saya katakan pada mereka, “Coba tunjukkan seperti apa kepribadianmu!”, dan inilah jawabannya:

CBD Tarot de Marseille oleh Dr. Yoav Ben-Dov, www.cbdtarot.com

CBD Tarot de Marseille oleh Dr. Yoav Ben-Dov, www.cbdtarot.com

Kartu yang keluar dari RWS mempunyai komposisi warna kuning yang dominan, ditambah dengan kartu The Sun, menunjukkan keceriaan. Strength dan The Empress menunjukkan figur yang kuat namun tidak agresif. Sepertinya RWS merupakan tipe yang memberikan semangat dan nasihat di saat kita galau. Atau, bisa dibilang RWS merupakan dek yang baik untuk tujuan konseling.

Sedangkan CBD sepertinya berusaha untuk menyeimbangkan antara hal-hal yang materiil dengan yang non-materiil, yang internal dengan yang eksternal. Satu hal yang menarik adalah semua figur yang ada menoleh ke arah L’Hermite. Jadi, tujuan dari penyeimbangan ini adalah untuk perenungan, pencarian jati diri, dan perkembangan spiritual tanpa mengesampingkan hal-hal duniawi.

Menarik, bukan?