Membuat Genmaicha Sendiri

Genmaicha adalah salah satu jenis teh Jepang yang secara historis dikenal sebagai “tehnya orang miskin”. Teh hijau kualitas rendah rasanya sangat sepat dan pahit, sehingga untuk memperbaiki rasanya diperlukan campuran bahan yang lain. Beberapa sumber mengatakan bahwa genmaicha dibuat dengan campuran beras merah atau ketan hitam. Tapi ini tidak masuk akal karena harga beras merah dan ketan hitam justru mahal. Jadi apa bahan tambahan sebenarnya?

Jika kita berpikir seperti orang miskin, tentu jawabannya sangat jelas: nasi sisa.

Sebelumnya saya pernah mencoba membuat genmai dari beras yang disangrai. Aroma dan warnanya sudah cocok, tetapi teksturnya terlalu keras dan tidak larut di air. Kemudian saya coba membuat genmai dari nasi sisa yang dikeringkan lalu disangrai. Ternyata hasilnya cukup memuaskan.

Tentu rasanya tidak akan senikmat genmaicha kualitas tinggi, tetapi jika sudah bosan dengan teh hijau yang itu-itu saja kenapa tidak?

Iklan

Keluhan: Apresiasi terhadap teh

Terdapat berbagai macam jenis teh, masing-masing memiliki warna, aroma, dan rasa yang unik. Teh hijau sencha 煎茶 memiliki warna hijau terang yang lembut, dengan nuansa rumput laut yang ringan namun tercium dan terasa begitu clear. Tikuanyin 鐵觀音 memiliki aroma yang mirip pelepah kayu dan nektar bunga, dengan rasa yang semu manis. Lain lagi dengan pu-erh 普洱 yang melalui proses fermentasi yang lama dan rumit. Pu-erh tercium seperti manisan buah, dengan rasa yang kuat namun tidak terlalu sepat. Setiap jenis teh mempunyai ciri kepribadiannya masing-masing, mereka menunjukkan aktualisasi diri dengan cara yang berbeda-beda, dan hal itu memberikan kesan yang mendalam bagi setiap penikmatnya.

Teh berkualitas tinggi tidak mudah untuk dibuat. Agar mendapat daun teh terbaik, daun teh harus dipetik pada saat yang tepat. Itulah sebabnya para petani teh sudah bangun dan bekerja sebelum matahari terbit. Setelah dipetik, daun teh harus diolah terlebih dahulu, tergantung jenis teh yang akan dibuat. Semua itu membutuhkan keterampilan dan pengalaman; tidak semua orang di dunia ini dapat mengolah teh dengan baik. Bahkan teknik pengolahan teh yang paling sederhana seperti menyangrai pun membutuhkan ketelitian. Apalagi jika dibandingkan dengan teknik fermentasi pu-erh, misalnya. Kelembapan dan suhu udara selama proses fermentasi harus diperhatikan dan dijaga sepanjang waktu, dan hal ini perlu dilakukan tidak dalam waktu beberapa hari, melainkan hingga bertahun-tahun! Terakhir, untuk memaksimalkan potensi yang dorman dalam setiap helai daun teh kering dibutuhkan teknik penyeduhan yang tepat. Kesalahan dalam menyeduh akan menjadikan rangkaian proses pengolahan teh yang begitu indah ini sia-sia.

Membuat, menyeduh, dan meminum teh adalah sebuah seni yang memiliki tradisi selama ribuan tahun. Sesuatu yang memiliki nilai luhur, terbentuk dari aspirasi jutaan insan dalam ratusan generasi yang terus mencari kesempurnaan dan kenikmatan dalam satu cangkir seduhan daun teh. Sesuatu yang pantas untuk direnungkan dan dihormati.

Belakangan, beberapa kafe dan restoran menyediakan pilihan minuman teh yang relatif “eksotis” bagi sebagian besar orang Indonesia. Namun sayangnya, hampir semua orang Indonesia tidak memahami nilai suatu teh. Segala jenis teh diseduh secara sembrono dan diteguk dengan sembarangan. Setiap kali aku memesan teh hijau, teko ataupun gelasnya terasa sangat panas, airnya berwarna kuning keruh, aromanya hilang, dan rasanya menjadi sangat sederhana: sepat. Sangat menyedihkan.

Tetapi itu jauh lebih baik dibandingkan nasib helai-helai daun teh putih yang duduk dengan manis dalam kaleng yang dipajang dengan rapi di rak kafe. Teh putih, daun-daunnya mengandung bulu-bulu halus yang begitu lembut dan menawan. Mereka begitu belia, begitu rapuh, dan membutuhkan banyak perhatian serta kasih sayang. So pure and innocent. Tapi apa yang terjadi pada mereka? Saat seseorang memesan teh putih, mereka dikeluarkan dari kalengnya dan ditempatkan dalam teko. Memang biasa saja, namun yang terjadi setelahnya sungguh amat mengenaskan: MEREKA DISIRAM DENGAN AIR MENDIDIH.

Ya, memang wajar. Namun melihat hal ini terkadang membuat saya merasa sedih.